Liputanjatim.com – Kabupaten Sidoarjo menduduki posisi pertama dengan kasus HVI (human immunodeficiency virus) tertinggi se-Jawa Timur. Dinas Kesehatan Sidoarjo mengatakan angkat tersebut karena pihaknya aktif melakukan skrining.
Berdasarkan unggahan akun @data.kita, terdapat 270 kasus. Data tersebut kemudian Kabupaten Jember menyusul sebanyak 229 kasus. Lalu, Kabupaten Tulungagung dengan 209 kasus.
Menilai hal itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan (Kadinkes) Kabupaten Sidoarjo, dr Lakshmi Herawati Yuantina, meminta tidak mengartikan secara absolut.
Ia menjelaskan, data tersebut menunjukkan bukan berarti Sidoarjo menjadi daerah dengan kasus HIV tertinggi secara faktual. Ini merupakan deteksi dini dari skrining.
“Jadi angka itu memang paling tinggi kalau ukuran daerah. Mengapa? Karena yang pertama kita aktif dalam melakukan skrining,” kata Lakshmi, Kamis (16/10/2025).
Baca juga: Bupati Vs Wabup Sidoarjo Berkonflik, Emil Dardak: Kita Pantau
Melansir Kompas.com, dinkes Sidoarjo melalui bidang P2P (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit) rutin melakukan skrining ke lokasi-lokasi yang dianggap rawan penularan HIV.
“Untuk lebih teknisnya, tentu tim dari Dinkes yang turun ke beberapa lokasi yang kemungkinan ada kasus-kasus HIV,” terangnya.
Namun, pihaknya menyatakan bahwa belum menemukan satu lokasi tertentu yang berpotensi menjadi pusat penularan HIV.
“Sampai saat ini belum ya, karena memang secara umum tidak ada tempat yang terlokalisir di satu daerah saja,” ujarnya.
Pihaknya menggandeng stakeholder terkait untuk melakukan pencegahan, diagnosis dan pengobatan bagi pasien HIV.
Baca juga: Fraksi Demokrat–NasDem DPRD Sidoarjo Dorong Pemerintah Hadir Fasilitasi Pesantren
Kolaborasi tersebut untuk memperluas jangkauan layanan dan edukasi masyarakat, terutama pada komunitas yang berisiko tinggi.
“Kalau mampu kami lakukan sendiri. Tapi kalau tidak kami menggandeng beberapa yayasan atau stakeholder terkait yang bisa membantu menjembatani kepada masyarakat yang berpotensi, misalnya,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang P2P (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit) Dinas Kesehatan Sidoarjo, dr Djoko Setijono juga mengatakan bahwa pihaknya bekerja sama dengan Non-Governmental Organization (GNO) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
“Memang kita aktif dengan NGO dengan LSM dan ada kerja sama mitra. Kami melakukannya untuk skrining, di tempat-tempat seperti klub malam atau warung-warung gitu,” ucap Djoko.
Oleh sebab itu, ia juga menegaskan bahwa tingginya angka HIV di Kabupaten Sidoarjo karena aktif skrining sehingga dapat melakukan penanganan awal.
“Sehingga memang angka temuan barunya tinggi. Kita sudah melakukan preventif, kemudian tindak lanjutnya kita beri kemudahan akses masyarakat yang terpapar mendapat fasilitas kesehatan di puskesmas,” ujarnya.
