Liputanjatim.com – Lima tahun terakhir menjadi masa sulit bagi pedagang Pasar Induk Mimbaan Baru. Penurunan jumlah pengunjung yang terus terjadi membuat omzet mereka merosot tajam dan kian menjauh dari kondisi normal.
Salah satu pedagang buah, Halili, mengungkapkan bahwa penurunan jumlah pembeli justru terasa setelah pandemi Covid-19 usai wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
“Masa Covid-19 pengunjung masih ramai. Namun, pasca wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada sapi, pengunjung menurun drastis,” ungkap Halili melansir Bangsaonline, Senin (13/4/2026).
Menurutnya, kondisi pasar yang sempat diharapkan pulih malah belum menunjukkan perbaikan signifikan hingga saat ini.
Sementara itu, Linda, pedagang tempe dan tahu, turut merasakan dampak dari sepinya pasar. Ia mengaku penurunan pembeli membuat dagangannya kerap tidak habis terjual dalam sehari.
“Tempe dan tahu kadang saya berikan ke orang daripada basi. Kadang hanya laku sedikit, bahkan pernah tidak ada pembeli sama sekali,” kata Linda.
Para pedagang mengungkapkan bahwa berkembangnya belanja online telah menggerus minat masyarakat untuk datang ke pasar tradisional.
Selain itu, Pasar Senggol dan Pasar Panji menjadi pesaing kuat yang menyedot pengunjung.
Kondisi ini semakin memprihatinkan karena fungsi distribusi di Pasar Induk tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Pedagang malah bergantung pada pasokan dari pasar lain untuk menjaga ketersediaan barang.
Halili mengungkapkan, sebelumnya pedagang dapat mengambil barang langsung dari petani dengan harga lebih terjangkau.
Namun kini, rantai distribusi dikuasai pengepul besar sehingga harga melonjak dan pedagang kecil kesulitan memperoleh pasokan.
Ia pun berharap pemerintah daerah segera turun tangan dengan langkah konkret.
“Kami mendengar kabar akan ada renovasi agar pasar lebih modern, tapi hingga kini belum ada kabar pastinya. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah daerah agar pengunjung kembali ramai,” paparnya.
