Ads

Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Plastik di Malang, UMKM Tertekan

Liputanjatim.com – Dampak konflik di Timur Tengah turut mengguncang sektor perdagangan plastik di Kota Malang. Harga berbagai jenis plastik di tingkat grosir melonjak tajam hingga dua kali lipat, membuat para pelaku usaha kecil kesulitan bertahan di tengah tekanan biaya produksi yang terus meningkat.

“Kenaikan ini murni karena bahan bakunya. Bahan baku plastik itu kan terpengaruh harga minyak dunia dan dolar, karena perang itu memang,” ujar Pengelola Grosir Plastik Eka, Jalan Muharto, Kota Malang, Muhammad Umam, Selasa (7/4/2026).

Menurutnya, harga plastik secara umum mengalami kenaikan sekitar 50 persen, dengan beberapa jenis mengalami lonjakan hingga dua kali lipat.

Plastik PP atau kantong bening menjadi salah satu yang terdampak paling signifikan, dari harga Rp30 ribu per kilogram kini naik menjadi Rp55 ribu per kilogram.

Selain itu, kemasan plastik thinwall 500 ml turut mengalami kenaikan signifikan. Harga yang semula Rp25 ribu per slop kini meroket menjadi Rp52 ribu.

Menurut Umam, kenaikan ini merupakan yang paling tinggi selama ia berkecimpung di bisnis grosir plastik.

“Tidak pernah naik segini banyak. Kenaikan ini bukan ditentukan oleh toko, tapi langsung dari pabrik karena bahan bakunya memang mahal,” tegasnya.

Pelaku usaha kecil turut langsung merasakan kenaikan harga tersebut, sebab mereka mengandalkan plastik sebagai kemasan utama.

Banyak di antara mereka terpaksa menekan jumlah pembelian, bahkan membatalkan pesanan karena tidak mampu menanggung lonjakan biaya produksi.

Baca juga: Komisi B DPRD Jatim Ungkap Capaian Ekonomi Jatim Selesai di Angka, Tapi Sayang Tak Sentuh Sektor Riil

Umam mengungkapkan, pembatalan transaksi kini semakin sering terjadi, mencerminkan tekanan yang di rasakan baik oleh penjual maupun pembeli di tengah fluktuasi harga.

“Banyak pembeli yang balik (batal beli) karena harganya tinggi sekali. Penjual bingung, pembeli juga bingung. Pabrik pun sama, karena sistemnya sekarang harus bayar tunai (cash). Kalau tidak ada uang muka, barang tidak diproduksi,” jelasnya.

Kondisi tersebut turut berdampak langsung terhadap omzet penjualan.

Saat hari normal, pendapatan Grosir Plastik Eka mengalami penurunan yang cukup signifikan, seiring aktivitas jual beli yang kini cenderung melambat.

Umam pun berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga, khususnya komoditas yang berkaitan dengan kebutuhan pelaku usaha kecil dan mikro.

Menurutnya, tanpa intervensi, tekanan terhadap ekonomi akar rumput akan semakin besar.

“Harapannya harga bisa turun. Kalaupun naik, jangan terlalu signifikan seperti sekarang. Kondisinya sekarang ini sepi dibandingkan biasanya. Orang-orang, saya rasakan daya belinya juga sepertinya turun,” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terkait

Ikuti Kami

10,750FansSuka
26,000PengikutMengikuti
1,079PengikutMengikuti
1,825PengikutMengikuti
16,700PelangganBerlangganan

Artikel Terbaru