Ads

P3GI Jadi Tuan Rumah IKAGI 2026, Perkuat Strategi Nasional Menuju Swasembada Gula

Liputanjatim.com – Pertemuan Teknis Ikatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI) 2026 resmi digelar pada Selasa, 29 April 2026, di Gedung H P3GI, Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, Jalan Pahlawan No. 25, Pekuncen, Panggungrejo, Kota Pasuruan, Jawa Timur. Kegiatan ini mengusung tema besar “Penguatan Industri Gula Nasional Menuju Swasembada Gula dan Energi: Adaptasi Iklim hingga Pengembangan Bioetanol.”

Forum strategis ini menjadi ruang kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat industri gula nasional menuju kemandirian pangan dan energi. Melalui diskusi teknis, berbagi inovasi, hingga perumusan rekomendasi, IKAGI 2026 diharapkan menjadi pijakan penting dalam mentransformasi sektor pergulaan Indonesia agar lebih tangguh, adaptif, dan berdaya saing tinggi.

Ketua IKAGI, Dr. Aris Toharisman, menegaskan bahwa target swasembada gula nasional terbagi dalam dua tahapan, yakni swasembada gula konsumsi pada 2028 dan swasembada gula total pada 2030. Menurutnya, proyeksi produksi gula nasional tahun ini mencapai 3,04 juta ton, sementara kebutuhan konsumsi berada di angka 2,8 juta ton.

“Artinya sudah ada 120 ribu ton pada tahun ini. Pertanyaannya kemudian adalah kalau kemudian sudah tercapai swasembada konsumsi, bagaimana nanti perangkat pabrik gula eksisting dan pabrik-pabrik gula yang akan dibangun, ke mana akan mereka? Apakah menghasilkan gula rotunder, untuk menghasilkan ekspor, atau langsung menghasilkan gula rafinasi yang bisa dipakai oleh industri makanan dan minuman,” ujarnya.

Menurut Aris, tantangan industri gula ke depan bukan hanya soal memenuhi kebutuhan konsumsi, tetapi juga bagaimana mengarahkan produksi agar memberi nilai tambah lebih besar bagi industri nasional, termasuk mendukung pengembangan bioetanol.

Ia juga menyoroti fakta bahwa peningkatan produksi gula saat ini masih lebih banyak ditopang oleh perluasan area tanam, bukan peningkatan produktivitas lahan.

“Kalau kita lihat angka tahun 2024, produktivitas gula ini hanya 4,7 ton per hektare. Tahun 2025 itu hanya sekitar 4,69 ton per hektare. Jadi tugas kita adalah bagaimana kita bisa meningkatkan produksi gula, bukan hanya dari sisi ekspansi lahan tetapi kita lakukan intensifikasi,” tegasnya.

Aris menilai pendekatan intensifikasi menjadi langkah strategis yang harus diprioritaskan. Dengan meningkatkan produktivitas dari 4,7 ton menjadi minimal 6 ton per hektare, Indonesia dinilai dapat mencapai swasembada gula konsumsi tanpa perlu ekspansi lahan besar-besaran.

“Kalau itu saja dilakukan dengan area eksisting 560 ribu hektare, kita sudah bisa mencapai swasembada gula konsumsi tanpa menambah area,” katanya.

Selain itu, ia mengingatkan pentingnya perhatian pada kualitas varietas tebu dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Menurutnya, keberhasilan swasembada tidak cukup hanya mengandalkan pembukaan lahan baru, melainkan harus diimbangi inovasi pada sisi kebun, tanaman, dan teknologi pabrik.

“Jangan salah bahwa kita tidak boleh melupakan sisi varietas. Kalau sisi kualitas tidak diperhatikan, jangan harap bahwa kita bisa meningkatkan produktivitas yang tinggi,” tandasnya.

IKAGI 2026 juga menghadirkan sejumlah keynote speaker yang berkompeten di bidang industri gula dan perkebunan, yakni Mahmudi, S.P., M.Si. selaku Direktur Utama PT Sinergi Gula Nusantara, Anita Rury F., S.P., M.P. selaku Peneliti Ahli Utama PT Riset Perkebunan Nusantara – Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia, Ir. Kunthi W., S.T., M.Eng., IPM selaku Kepala Divisi Riset PT Kebun Agung Group, serta Endri Novianto, S.P. selaku Direktur Utama PT Kebon Tebu Mas.

Kehadiran para keynote speaker tersebut memperkaya perspektif diskusi terkait tantangan dan peluang industri gula di masa depan, khususnya dalam mendorong inovasi, efisiensi, serta keberlanjutan sektor pergulaan nasional.

Didukung sinergi antara sektor penelitian, industri, dan praktisi, forum ini diharapkan mampu menghasilkan solusi konkret bagi transformasi sektor pergulaan Indonesia.

“Semoga apa yang kita lakukan pada hari ini akan memberikan manfaat bagi kita semua, bagi perusahaan, dan khususnya bagi bangsa dan negara,” pungkas Aris.

IKAGI 2026 pun menjadi momentum penting bagi seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama mewujudkan masa depan industri gula yang mandiri, inovatif, dan berkelanjutan demi Indonesia yang lebih kuat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terkait

Ikuti Kami

10,750FansSuka
26,000PengikutMengikuti
1,079PengikutMengikuti
1,825PengikutMengikuti
16,700PelangganBerlangganan

Artikel Terbaru