Ads

Dugaan Sawah Tercemar TPA Pakusari Jember, DTPHP Lakukan Uji Lab

Liputanjatim.com – Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Jember melakukan pengambilan sampel tanah di area persawahan Dusun Lamparan, Desa Kertosari, Kecamatan Pakusari, Selasa (28/4/2026).

Langkah ini untuk menyelidiki dugaan pencemaran yang bersumber dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pakusari yang di tuding berdampak pada lahan pertanian warga.

Kepala DTPHP Jember, Luhur Prayogo, menyampaikan bahwa pihaknya telah menurunkan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk melakukan pengecekan langsung ke area persawahan dan saluran irigasi di desa tersebut pada Jumat (24/4/2026).

Hingga kini, hasil akhir masih menunggu proses uji laboratorium terhadap sampel tanah dan air lindi dari TPA.

“(Sampel tanah) naru diberikan ke Bidang PSP (Prasarana dan Sarana Pertanian) untuk disampaikan ke lab tanah Universitas Jember,” ungkap Luhur, melansir Kompas.com, Senin (27/4/2026).

Dalam pengecekan tersebut, PPL tidak hanya mengambil sampel, tetapi juga mengukur tingkat keasaman (pH) tanah di area terdampak.

Luhur mengungkapkan, kondisi tanah di lokasi bervariasi, bahkan ada yang tergolong sangat asam dan tidak cocok untuk bercocok tanam.

Baca juga: Pemkab Jember Kerahkan ASN Verval DTSEN, DPRD Beri Sejumlah Catatan

“Untuk yang tidak bisa di tanami pH asam di bawah 5. Sedangkan untuk sekitarnya masih normal pH 6-7,” ungkap Luhur.

Luhur menjelaskan, tanaman padi umumnya dapat tumbuh optimal pada tanah dengan tingkat keasaman (pH) di atas 5,5 karena mendukung penyerapan unsur hara secara maksimal.

Namun, kondisi di lapangan menunjukkan adanya perubahan pada air irigasi yang mengalir ke sawah.

Air tersebut tampak berwarna gelap dan mengeluarkan bau tak sedap, dugaannya akibat rembesan air lindi dari tumpukan sampah.

Kondisi tersebut berdampak pada pertumbuhan tanaman padi yang tidak normal, bahkan banyak yang mati sebelum memasuki masa panen.

Koordinator petani Desa Kertosari, Didik Rudi Hartono, menyebutkan situasi ini membuat sebagian petani memilih meninggalkan lahannya. Sebab, hasil panen yang ada tidak mampu menutup biaya produksi.

Ia menyebut, dari lahan yang sebelumnya produktif. Kini hasil panen merosot drastis bahkan ada yang tidak bisa di tanami sama sekali.

“Kami sudah berulang kali gagal panen, mau tanam lagi takut rugi terus,” tutur dia.

Didik berharap, pengambilan sampel tanah oleh DTPHP Jember tidak berhenti pada proses uji laboratorium semata.

Ia meminta agar langkah tersebut segera ada tindaklanjut dengan kebijakan konkret untuk menangani dampak pada petani.

“Harapan kami ke dinas segera ambil tindakan untuk menetralisasi tanah kami yang tercemar. Supaya bisa ditanami lagi dan kami tidak terus merugi,” harap Didik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terkait

Ikuti Kami

10,750FansSuka
26,000PengikutMengikuti
1,079PengikutMengikuti
1,825PengikutMengikuti
16,700PelangganBerlangganan

Artikel Terbaru