Ads

DPRD Jatim Sebut Optimalisi QRIS Penting bagi Bank Jatim demi Tekan BOPO

Liputanjatim.com – Anggota Komisi C DPRD Jawa Timur Pranaya Yudha Mahardika terus mendorong Bank Jatim menekan Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO).

Menurut Pranaya, Bank Jatim bisa mengintensifkan penggunaan penggunaan pembayaran melalui QRIS sebagai strategi penekanan biaya BOPO. Ruang QRIS ia katakan jangan diabaikan karena dampaknya besar.

ā€œBOPO memang membaik, tapi masih bisa ditekan lagi,ā€ ujarnya.

Ketua Fraksi Golkar DPRD Jatim itu mengatakan, kunci efisiensi ada pada peningkatan porsi dana murah. Ia menilai QRIS dapat menjadi sumber DPK murah yang efektif, jauh lebih efisien dibanding deposito yang berbunga tinggi.

ā€œSalah satu cara yang paling masuk akal adalah mencari dana murah. Dan itu bisa dari optimalisasi QRIS,ā€ tegasnya.

Ia menjelaskan, jumlah pengguna QRIS Bank Jatim harus diperluas agar biaya operasional menurun secara signifikan. ā€œKalau pengguna naik, dana murahnya masuk, otomatis BOPO turun,ā€ ujarnya.

Karena itu, ia meminta Bank Jatim membentuk satgas khusus untuk menggenjot ekspansi pengguna QRIS, terutama di sektor UMKM.

Pranaya juga menyoroti potensi besar dari transaksi harian UMKM yang nominalnya kecil namun masif. ā€œTiap hari mungkin cuma ratusan ribu atau satu juta. Tapi kalau jumlahnya banyak, dampaknya signifikan,ā€ katanya.

Sementara itu, Direktur Utama Bank Jatim, Winardi Legowo, melaporkan kinerja perseroan yang terus menguat. Laba bersih kuartal III-2025 naik 23,5%–23,66% YoY menjadi Rp1,14–1,15 triliun. ā€œKenaikan ini ditopang pendapatan bunga dan ekspansi kredit produktif,ā€ jelasnya.

Winardi menegaskan dua fokus utama Bank Jatim: mendorong pendapatan dan meningkatkan efisiensi.

ā€œKami dorong revenue, sekaligus kami perbaiki efisiensi. Dua-duanya berjalan,ā€ tegasnya. Ia juga memastikan penurunan NPL tetap menjadi prioritas. ā€œNPL akan terus kami tekan,ā€ ujarnya.

Secara fundamental, Bank Jatim mencatat penguatan di hampir semua lini, mulai aset Rp107,49 triliun, kredit Rp67,74 triliun, DPK Rp85,19 triliun, hingga CASA yang naik menjadi 58,96%. Adapun NPL berada di level 3,96%.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terkait

Ikuti Kami

10,750FansSuka
26,000PengikutMengikuti
1,079PengikutMengikuti
1,825PengikutMengikuti
16,700PelangganBerlangganan

Artikel Terbaru