Liputanjatim.com — Mantan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengajak seluruh warga Jawa Timur untuk terus menjaga keberagaman yang menjadi kekuatan utama bangsa Indonesia. Menurutnya, keberagaman justru merupakan motor penggerak keutuhan dan kemajuan nasional.
“Keberagaman merupakan satu kekuatan utuh, bagaimana dibalik keberagaman itu tersisip satu semangat yang sama yakni untuk kemajuan Indonesia,” ujar Mahfud MD saat menjadi keynote speaker dalam Rapat Paripurna Istimewa DPRD Jawa Timur memperingati Hari Jadi Provinsi Jawa Timur ke-80, Minggu (12/10/2025).
Mahfud menegaskan, jika di tengah keberagaman muncul sikap intoleransi, hal itu merupakan penyakit yang harus segera diberantas.
“Nilai-nilai yang harus kita jaga untuk menjadikan Jawa Timur sebagai salah satu motor yang kuat bagi kemajuan Indonesia, menjaga keberagaman. Penyakit yang paling membahayakan, yang menjadi kanker bagi kehidupan satu bangsa, itu karena mereka tidak mau menerima keberagaman,” tegasnya.
Ia menilai, Jawa Timur selama ini telah menjadi contoh nyata daerah yang berhasil merawat kerukunan di tengah keberagaman etnis, budaya, dan agama. Kondisi itu, menurutnya, menjadi modal besar bagi Indonesia untuk terus maju.
“Afganistan itu memiliki tujuh suku bangsa. Tapi mereka bertujuh saling berperan. Bayangkan, Indonesia mempunyai 1.360 suku bangsa, tapi kita bersatu untuk bersama. Bayangin [Afganistan] tujuh saja pecah, kita 1.360 bersatu menjadi Indonesia. Dan itu dicontohkan dalam sebuah pot kecil yang bernama Jawa Timur. Karena Jawa Timur itu berbagai suku, agama, dan ras itu lengkap,” ujarnya.
Putra asli Madura itu juga menyinggung kemajuan bangsa Indonesia dalam hal memupuk semangat kebangsaan di atas identitas kesukuan. Ia mengenang masa kecilnya ketika kartu tanda penduduk (KTP) masih mencantumkan identitas suku. Kini, kata Mahfud, hal itu sudah tidak ada lagi karena semangat keindonesiaan telah melebur dengan sendirinya.
“Waktu saya kecil dulu, KTP itu orang ada suku, ada agama, suku itu suku Madura, suku Jawa, suku Batak ditulis. Sekarang tidak ada lagi. Kenapa? Apa itu mau dilebur paksa? Tidak! Karena dengan Indonesia merdeka, peleburan itu terjadi dengan sendirinya,” tuturnya.
Mahfud pun menutup pesannya dengan ajakan untuk terus memperkuat semangat kebangsaan tanpa terjebak dalam identitas sempit.
“Jangan lagi berpikir suku. Mari bangun, kita jaga keindonesiaan kita. Jangan lagi berpikir suku. Mari bangun bangsa dan negara ini dengan sebaik-baiknya,” pungkasnya.
