Liputanjatim.com – Kasus kekerasan terhadap anak masih kerap terjadi di tengah masyarakat. Anak-anak yang berada dalam posisi lemah sering kali menjadi pelampiasan amarah dengan beragam alasan dan motif.
Wakil Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Hikmah Bafaqih, menuturkan bahwa kekerasan pada anak justru banyak dilakukan oleh orang-orang terdekat. Padahal, mereka seharusnya menjadi pihak yang mengayomi dan melindungi.
“Kekerasan terhadap anak ini sering kali bukan dilakukan orang jauh, tetapi justru oleh orang dekat yang memiliki relasi kuasa lebih kuat terhadap anak,” ujarnya.
Menurutnya, relasi yang timpang antara anak dan orang dewasa menjadi salah satu faktor utama terjadinya kekerasan. Anak yang bergantung secara ekonomi dan emosional pada orang dewasa tidak memiliki daya untuk melawan atau melaporkan perlakuan yang diterimanya.
Lalu bagaimana cara mencegah kekerasan terhadap anak? Politisi PKB ini menuturkan konsep pengasuhan berjemaah salah satu cara mencegah kekerasan kepada anak terjadi. Penting membangun lingkungan tumbuh kembang yang sehat dan aman.
Ia menyebut, perlindungan anak tidak bisa hanya dibebankan kepada keluarga inti, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat.
“Lingkungan terkecil seperti keluarga, kemudian warga sekitar, dasawisma, hingga RT dan RW harus memiliki kepedulian yang sama. Ini yang kita sebut sebagai pengasuhan berbasis komunitas,” jelasnya.
Konsep pengasuhan berjamaah atau berbasis komunitas tersebut, lanjutnya, menjadi bentuk kontrol sosial sekaligus dukungan kolektif agar anak-anak terhindar dari kekerasan. Ketika lingkungan peka dan berani bertindak, potensi kekerasan dapat dicegah lebih dini.
Pihaknya juga mendorong penguatan edukasi kepada orang tua terkait pola asuh yang ramah anak. Selain itu, akses pelaporan dan pendampingan bagi korban harus diperluas agar anak mendapatkan perlindungan maksimal.
“Anak adalah generasi penerus. Mereka harus tumbuh dalam rasa aman, bukan dalam ketakutan,” tegasnya.
