Liputanjatim.com – Konflik internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terus memanas setelah keputusan Rais Aam KH Miftachul Akhyar yang memberhentikan KH Yahya Cholil Staquf dari jabatan Ketua Umum PBNU. Keputusan tersebut menuai respons keras, sebab Gus Yahya menegaskan dirinya masih sah sebagai Ketua Umum hingga digelarnya Muktamar 2026.
Memanasnya dinamika di tingkat pusat ini mengundang perhatian para ulama di berbagai daerah, termasuk di Madura. Puluhan Syuriyah NU dan masyayikh pesantren se-Madura menggelar pertemuan khusus di Ndalem Kasepuhan Syaikhona Muhammad Kholil, Bangkalan, pada Selasa (2/12/2025) malam.
Pertemuan ini diprakarsai oleh Rais Syuriyah PCNU Bangkalan sekaligus sesepuh Bani Syaikhona Kholil, KH Muhammad Faishol Anwar, sebagai bentuk ikhtiar moral untuk menjaga keteduhan organisasi.
Narhubung pertemuan, KH Dimyati Muhammad, menyampaikan bahwa para kiai sepakat pada tiga poin sikap penting menyikapi polemik PBNU:
Pertama para masyayikh dan Syuriyah NU mengaku sangat prihatin atas polemik yang terjadi di PBNU.
“Rasa keprihatinan yang teramat mendalam atas kondisi yang terjadi di lingkungan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama saat ini,” ujar KH Dimyati.
Kedua, para kiai menyerahkan sepenuhnya penyelesaiannya kepada alim ulama selaku pemegang otoritas dan pemimpin tertinggi di Nahdlatul Ulama.
Ketiga, Mengajak warga NU agar tenang, mempererat ukhuwah nahdliyyah, dan memperbanyak munajat kepada Allah SWT agar persoalan yang terjadi di PBNU segera memperoleh jalan keluar terbaik.
Pertemuan ini menjadi salah satu suara penting dari para ulama Madura, yang selama ini dikenal memiliki ikatan kuat dengan khittah dan tradisi keulamaan NU.
“Para kiai berharap dinamika di pusat dapat segera mereda dan organisasi kembali berjalan dalam suasana teduh serta penuh maslahat bagi umat,” pungkasnya.
