Liputanjatim.com – Anggota DPRD Jawa Timur dari Dapil I Kota Surabaya, Yordan M Batara Goa, menegaskan pentingnya penguatan kompetensi generasi muda agar mampu bersaing di pasar kerja yang semakin kompetitif.
Pernyataan tersebut ia sampaikan usai kegiatan reses di Setro Baru Utara, Kelurahan Gading, Kecamatan Tambaksari, Surabaya, Kamis (20/11/2025) malam. Dalam dialog bersama warga, Yordan menerima berbagai aspirasi, termasuk keluhan para pemuda yang kesulitan mendapatkan pekerjaan.
Menanggapi hal itu, Yordan menekankan perlunya memanfaatkan fasilitas pelatihan gratis yang disediakan pemerintah. “Kalau kita mau mencari tempat-tempat pelatihan, ya itu bisa di (UPT) Balai Latihan Kerja (BLK) Surabaya di Dukuh Menanggal. Itu menyediakan paket-paket pelatihan yang gratis, ada uang sakunya, ada sertifikatnya, tetapi memang jika ingin mendaftar banyak harus ada seleksi,” ujar Yordan.
Selain mengikuti pelatihan, ia menegaskan bahwa generasi muda harus memiliki mental kuat dan kesiapan bersaing, terlebih karena pasar kerja di Surabaya tidak hanya diperebutkan warga lokal. “Apalagi yang menjadi saingan nanti tidak cuma anak-anak di Surabaya, tapi karena Surabaya ini kota besar, orang-orang di luar Surabaya pun juga akan berbondong-bondong ke Surabaya untuk mencari pekerjaan,” tegasnya.
Yordan juga mengingatkan bahwa rasa nyaman tinggal bersama orang tua kadang membuat anak muda Surabaya kurang terpacu untuk meningkatkan daya saing. “Karena biasanya masih ikut orang tuanya, seringkali terlena dan kalah bersaing dengan anak-anak dari daerah,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, ia menekankan pentingnya mempersiapkan diri sejak dini untuk terjun ke dunia usaha, terutama bagi siswa SMK. “Bagi yang punya keinginan untuk berwirausaha supaya mereka sudah mulai berlatih sejak mereka ada di SMK. Jadi jangan tunggu lulus baru kemudian belajar wirausaha karena sebetulnya di SMK juga ada pelajaran tentang wirausaha,” jelasnya.
“Itu harus dimanfaatkan maksimal supaya mereka siap berwirausaha ketika mereka lulus dari SMK,” imbuh Yordan.
Ia turut menyoroti peran teaching factory (TEFA) sebagai jembatan penting antara sekolah dan dunia industri. “Kalau di SMK itu ada teaching factory (TEFA). Teaching factory itu membawa dunia kerja masuk ke dalam lingkungan SMK. Jadi kalau magang berarti anak-anak SMK yang keluar dan bekerja di dunia industri, tapi kalau teaching factory, dunia industri yang dibawa masuk SMK, anak-anak untuk berlatih di situ,” terangnya.
Menurutnya, optimalisasi TEFA mutlak diperlukan agar lulusan SMK benar-benar siap bekerja maupun berwirausaha. Bahkan sekolah, kata Yordan, harus berani melakukan evaluasi jika lulusan masih mengalami kesulitan mencari pekerjaan. “Kalau sekian bulan setelah selesai SMK itu belum bisa wirausaha atau bisa bekerja, maka mestinya itu harus melakukan intropeksi. Apa yang salah di kurikulum, apa yang kurang, apa yang harus diperbaiki, sehingga jangan sampai ada anak lulusan SMK yang nganggur,” pungkasnya.
