Liputanjatim.com – Anggota DPRD Jawa Timur, Ibnu Alfandy Yusuf, angkat bicara terkait hasil survei nasional yang dirilis lembaga riset Muda Bicara ID mengenai kinerja gubernur di mata generasi muda.
Survei yang dilakukan pada periode 1–30 Maret 2026 tersebut memotret persepsi anak muda terhadap kepemimpinan kepala daerah di Indonesia. Hasilnya, terdapat sepuluh gubernur yang dinilai berhasil mencuri perhatian dan mendapatkan apresiasi positif dari kalangan generasi muda.
Namun, hasil survei itu juga memunculkan catatan penting bagi Jawa Timur. Faktanya nama Gubernur Jatim, Khofifah Indar Parawansa, tidak masuk dalam daftar sepuluh gubernur dengan kinerja terbaik versi generasi muda. Hal ini tentu tidak bisa diabaikan.
Ibnu menegaskan, hasil survei ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan nyata kegagalan membangun koneksi dengan generasi muda. Ia menyebut ada jurang lebar antara narasi keberhasilan yang kerap disampaikan Khofifah dengan realitas yang dirasakan anak muda di lapangan.
“Ini bukan soal popularitas semata, tapi soal relevansi kepemimpinan. Jika anak muda tidak melihat dampak nyata, maka wajar jika apresiasi itu tidak muncul,” tegasnya.
Sebagai contoh konkret, Ibnu menyoroti rendahnya partisipasi pemuda dalam ekonomi mandiri di Jatim. Berdasarkan data yang ia sampaikan, capaian partisipasi pemuda dalam ekonomi mandiri hanya berada di angka 0,1361 dari target 0,415. Deviasi yang mencapai lebih dari 60 persen ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa ekosistem kewirausahaan muda di Jatim belum terbentuk secara optimal.
“Pemerintah Provinsi tampak gagal dalam menstimulus transformasi pemuda dari pencari kerja (job seeker) menjadi pencipta lapangan kerja (job creator),” ujarnya.
Menurut politisi PKB berusia 27 tahun tersebut, selama ini pendekatan yang dilakukan Khofifah cenderung berhenti pada level simbolik dan seremonial. Padahal, generasi muda menuntut lebih, kebijakan konkret, inovatif, harus nyata dan benar-benar dirasakan.
Ia juga menyoroti sejumlah isu krusial yang dinilai belum terjawab maksimal, mulai dari terbatasnya lapangan kerja berkualitas, akses pendidikan yang belum merata, hingga minimnya ruang partisipasi anak muda dalam pengambilan kebijakan.
“Penghargaan dan pencitraan tidak cukup. Anak muda butuh bukti, bukan narasi. Mereka ingin melihat keberpihakan yang jelas, apakah pemerintah benar-benar hadir menyelesaikan persoalan mereka atau tidak,” ujarnya.
Ibnu juga mengingatkan bahwa karakter generasi muda saat ini jauh lebih kritis dan rasional. Mereka tidak mudah terpengaruh oleh klaim sepihak, melainkan menilai langsung dari dampak kebijakan yang dirasakan sehari-hari.
“Kalau pola kepemimpinan tidak berubah, jangan heran jika kepercayaan anak muda terus menjauh. Ini alarm keras bagi Pemprov Jatim untuk berbenah secara serius, bukan sekadar memperbaiki citra,” pungkasnya.
Diketahui, survei Muda Bicara ID ini berbasis riset nasional kuartal pertama (Q1) 2026 yang melibatkan 800 responden di 38 provinsi yang dikumpulkan sepanjang 1-31 Maret 2026.
Founder Muda Bicara ID, Moch Edward Trias Pahlevi mengatakan, selain mengukur tingkat kepuasan terhadap kinerja kepala daerah, penelitian ini juga menggali pandangan anak muda terkait kebijakan publik, kondisi ekonomi, serta isu kesehatan mental.
“Muda Bicara ID melihat bahwa indikator penilaian anak muda tidak hanya berbasis pada capaian pembangunan fisik, tetapi juga pada sejauh mana kebijakan pemerintah menyentuh aspek kesejahteraan psikologis dan peluang masa depan,” ucap Edward.
