Liputanjatim.com – Kasus keracunan massal yang menimpa siswa PAUD hingga TK di Jember mendapat perhatian serius dari Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG). Tim Satgas melakukan inspeksi mendadak ke SPPG di Jalan Teratai, Kecamatan Kaliwates, Jumat (22/5/2026), untuk mengevaluasi proses penyediaan makanan program MBG.
Kepala Satgas MBG Jember, Achmad Fauzi mengatakan, pihaknya menemukan adanya persoalan pada proses produksi atau pelaksanaan SOP di dapur penyedia makanan. Meski demikian, pihaknya masih terus melakukan investigasi lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti insiden tersebut.
“Ada masalah di hulunya di sini (SPPG), itu terkait teknis SOP, biarkan dilakukan (investigasi). Tetapi Bupati berpihak pada korban. Artinya Bupati minta maaf pada korban dan keluarga korban, dan tidak boleh terulang lagi. Itu persoalan pertama,” katanya.
Dalam sidak tersebut, Fauzi juga menyoroti belum adanya kebijakan penangguhan permanen bagi penyedia MBG yang bermasalah. Ia menilai alasan mempertahankan kuota jumlah SPPG tidak boleh mengesampingkan keselamatan penerima manfaat program.
“Hasil diskusi ternyata tidak ada di Jember yang di-suspend permanen dengan dalih kuota (SPPG yang harus berdiri). Padahal keselamatan para penerima itu harus diutamakan, bukan target berapa SPPG (Satuan Pelayanan Program Gizi) yang harus berdiri,” ujarnya.
Menurut Fauzi, para siswa mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG sehingga pola kejadiannya dapat terlihat dengan jelas. Karena itu, ia menyebut kondisi tersebut tidak memerlukan analisis yang terlalu rumit untuk dipahami.
“Meyakininya kan enggak usah pakai sebuah riset. Jadi in-out-nya adalah akibat dari makan, out-nya adalah keracunan. Maka ndak butuh kita basis sains (yang rumit),” paparnya.
Baca juga: Harga Minyak Goreng Naik Jelang Idul Adha, PKB Minta Pemerintah Bongkar Mafia Pangan
Ia juga menyayangkan munculnya kasus tersebut di tengah rencana Jember menjadi daerah percontohan nasional program MBG. Apalagi, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) akan datang ke Jember dalam waktu dekat.
“Malu dong, paradoks. Ketika Kepala BGN ke Jember, Jember akan dijadikan pilot project nasional. Paradoksnya ada peristiwa (keracunan) dan enggak boleh terjadi lagi peristiwa semacam itu,” ungkapnya.
Fauzi menegaskan perlunya tindakan tegas terhadap pihak yang lalai agar kejadian serupa tidak menyebar ke penyedia lainnya. Ia berharap ada efek jera demi menjaga kualitas pelaksanaan program MBG di Jember.
“Maka di dalam teorinya, harus ada satu atau beberapa yang didisiplinkan. Maka biar tidak ada menular ke yang lainnya. Harus ada efek kejut,” pungkasnya.
