Liputanjatim.com – Inflasi Kota Malang pada April 2026 tercatat sebesar 0,05 persen secara bulanan (month to month/mtm) berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).
Nilai tersebut menurun dibandingkan Maret 2026 seiring berakhirnya momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
BPS juga mencatat inflasi tahunan Kota Malang pada April 2026 sebesar 2,70 persen year on year (yoy).
Angka tersebut berada di bawah inflasi Jawa Timur yang mencapai 2,85 persen yoy, namun masih lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,42 persen yoy.
Kenaikan harga kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar inflasi April 2026 dengan andil 0,48 persen mtm.
Adapun komoditas yang dominan memicu inflasi yakni cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras serta cabai merah.
Kenaikan harga pangan pada April 2026 di pengaruhi tingginya permintaan masyarakat di tengah terbatasnya pasokan akibat faktor cuaca, terutama pada komoditas cabai.
Baca juga: Satpam Perumahan di Malang Tewas Usai Kejar Komplotan Pencuri
Selain itu, tarif angkutan udara dan harga bensin turut menyumbang inflasi. Demikian, seiring kenaikan harga avtur global serta penyesuaian harga BBM nonsubsidi.
Di sisi lain, laju inflasi Kota Malang tertahan oleh sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga atau deflasi. Di antaranya, emas perhiasan, cabai rawit, daging ayam ras, telur ayam ras dan telur puyuh.
Kondisi tersebut di pengaruhi normalisasi permintaan masyarakat pasca Lebaran serta masuknya masa panen raya pada beberapa komoditas pangan.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang, Indra Kuspriyadi mengatakan tekanan inflasi di Kota Malang masih relatif terkendali.
Indra menilai, hal itu terjadi berkat penguatan sinergi pengendalian inflasi antara pemerintah daerah dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
“Koordinasi dan penguatan program pengendalian inflasi terus kami lakukan agar stabilitas harga tetap terjaga dan daya beli masyarakat tetap kuat,” kata Indra, Senin (11/5/2026).
TPID Kota Malang menjalankan sejumlah langkah pengendalian inflasi selama April 2026.
Upaya tersebut meliputi pemantauan harga bahan pokok. Selain itu, pihaknya melakukan inspeksi mendadak stok LPG 3 kilogram, panen cabai hingga tanam padi serentak bersama pemerintah provinsi.
Bank Indonesia memastikan penguatan sinergi pengendalian inflasi melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dan strategi 4K. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5±1 persen.
