IKLAN
Kriminal

Kasus Pencabulan di Kediri Terungkap, Korban Tercatat 12 Anak

Oleh Haris 22 Mei 2026, 13:56 WIB 2 menit baca 4 dibaca
Add on Google 💬

Liputanjatim.com – Satreskrim Polres Kediri menyatakan jumlah korban dugaan pencabulan yang dilakukan seorang guru ngaji berinisial HO terus bertambah. Hingga kini, polisi mencatat ada 12 anak di bawah umur yang diduga menjadi korban.

Kasatreskrim Polres Kediri AKP Joshua Peter Krisnawan mengatakan jumlah korban diketahui setelah dilakukan pendataan bersama perangkat desa dan para korban. “Pada saat dilakukan pendataan terhadap korban-korban yang ada, ternyata korban tersebut berjumlah cukup banyak,” jelas Joshua Peter, Kamis (21/5/2026).

Kasus ini terungkap ketika salah satu orang tua korban mengetahui anaknya diduga menjadi korban pencabulan. Laporan kemudian diteruskan kepada perangkat desa sebelum akhirnya dibawa ke Polres Kediri. “Berdasarkan data yang sudah kami himpun, terdapat 12 anak di bawah umur yang diduga menjadi korban pencabulan oleh tersangka,” tambah Joshua Peter.

Polisi menyatakan belum menutup kemungkinan adanya korban lain yang belum melapor, dan mengimbau masyarakat Kabupaten Kediri yang merasa menjadi korban agar segera melapor ke Unit PPA Satreskrim Polres Kediri.

IKLAN

Sebelumnya, seorang tokoh agama sekaligus pensiunan guru berinisial H di Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, diamankan Satreskrim Polres Kediri terkait dugaan pencabulan terhadap anak di bawah umur. Petugas dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) melakukan penangkapan terhadap pelaku pada Sabtu (16/5/2026) malam, dan video penangkapan sempat viral.

Dalam proses penangkapan, terjadi ketegangan setelah puluhan warga yang geram berkumpul dan berusaha menghadang mobil petugas. Aksi pelaku yang juga dikenal sebagai penasihat pengurus masjid setempat ini terungkap setelah salah seorang anak bercerita di rumah, yang kemudian terdengar oleh orang tuanya.

Kepala Dusun setempat, Desi Putri, menjelaskan bahwa dari obrolan tersebut orang tua mulai menanyai anak-anak lain di lingkungan hingga muncul pengakuan serupa. “Awalnya satu anak bercerita di rumah, kemudian setelah ditanya lebih lanjut ternyata ada anak-anak lain yang mengalami hal serupa. Sebenarnya kita sudah punya iktikad baik mengundang untuk duduk bersama lah ibaratnya gitu, tapi dari pihaknya tidak datang. Masalahnya kalau memang di dusun sudah tidak bisa, langsung diangkat saja,” kata Desi Putri kepada detikJatim, Minggu (17/5/2026).

Penulis

Haris

Redaksi LiputanJatim menyajikan berita, informasi, dan analisis seputar Jawa Timur, nasional, politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan peristiwa terkini.

Lihat artikel penulis

Tinggalkan Komentar