Liputanjatim.com – Kota Pasuruan kini menambah daftar destinasi edukasi berbasis sejarah industri dengan hadirnya Museum Gula Indonesia yang berada di dalam kompleks Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI), lembaga yang saat ini berada di bawah naungan PT Riset Perkebunan Nusantara. Museum tersebut resmi diperkenalkan kepada publik melalui agenda soft launching yang diresmikan langsung oleh Direktur PT Riset Perkebunan Nusantara, Iman Yani Harahap.
Turut hadir dalam peresmian itu Direktur Eksekutif Museum Perkebunan Indonesia, Sri Hartini, serta Kepala P3GI Kota Pasuruan, Aris Lukito.
Usai prosesi soft launching, rombongan tamu kehormatan diajak meninjau langsung isi museum yang menempati bangunan bersejarah berusia ratusan tahun. Bangunan tersebut kini direvitalisasi menjadi ruang narasi perjalanan industri gula Indonesia, mulai dari masa kolonial hingga era modern.
Berbeda dari museum pada umumnya, Museum Gula Indonesia tidak sekadar menghadirkan koleksi benda lama, melainkan menyusun alur cerita yang menempatkan sejarah gula sebagai bagian penting dari perjalanan ekonomi bangsa. Di dalamnya, pengunjung dapat menyaksikan dokumentasi perkembangan industri gula, transformasi kelembagaan P3GI, hingga kiprah lembaga ini yang dulunya dikenal sebagai Het Proefstation Oost Java (POJ).
Kepala P3GI Kota Pasuruan, Aris Lukito, menegaskan bahwa museum ini merupakan hasil dari upaya panjang untuk menjaga warisan intelektual dan sejarah pergulaan nasional.
“Sekarang kita berjuang untuk mengenang dan menjaga memori itu. Kita kenang kejayaan P3GI yang sangat berjaya di masanya, dan ini kita bangkitkan semua memori itu melalui museum ini,” terangnya, Rabu (29/4/2026).
Menurut Aris, keberadaan museum ini juga menjadi pengingat bahwa P3GI pernah menjadi pusat penelitian tebu terbesar di Asia Tenggara, bahkan termasuk salah satu lembaga penelitian gula tertua di dunia. Sejumlah dokumen penting yang masih tersimpan di lingkungan P3GI kini dihadirkan kembali sebagai bagian dari narasi besar Museum Gula Indonesia.
“Intinya di dalam museum ini kita bercerita sejarah gula di indonesia, naik dan turunnya, sejak masuknya gula di Indonesia,. Di sana ada sejarah, ada peran kita, Indonesia melalui POJ berkiprah di dunia,” ujarnya.
Ke depan, museum ini tidak hanya difungsikan sebagai ruang penyimpanan sejarah, tetapi juga akan dikembangkan menjadi pusat edukasi interaktif. P3GI telah menyiapkan tiga konsep utama, yakni edukasi sejarah, pelestarian heritage dan keterampilan, serta kolaborasi dengan lembaga profesional di bidang permuseuman.
“Kita menawarkan praktek aktual dalam kegiatan pergulaan, mulai dari tanam tebu sampai beberapa pengolahan yang lain. Intinya kami mengembalikan fasad awal, menjaga ini, dan kami akan bekerja sama dengan Yayasan Museum Perkebunan di Medan, sehingga tidak keluar dari koridor dan menjaga keontetikan bangunan,” imbuhnya.
Sementara itu, Sri Hartini menilai Museum Gula Indonesia memiliki potensi besar sebagai pusat pelestarian heritage industri perkebunan, khususnya yang berkaitan dengan sejarah gula nasional.
“Saya rasa ini museum pertama, menjadikan potensi yang besar dalam menjaga melestarikan heritage yang ada di P3GI, di sini cukup banyak, dan akan bertahap dijaga agar tetap lestari bangunannya,” harapnya.
Ia juga menekankan pentingnya strategi tata pamer modern agar museum mampu menarik minat generasi muda, terutama pelajar.
“Bicara museum, tidak hanya memajang benda-benda saja, tapi harus punya strategi tata pamernya agar senang berkunjung. Pertama suasananya, kalau bisa dilengkapi dengan IT teknologi yang kekinian, karena museum itu 80-90 persen adalah anak-anak sekolah. P3GI harus punya program publik untuk menghidupkan museum ini. Insya Allah bangunan ini dapat kita lestarikan,” tutupnya.
Dengan kehadiran Museum Gula Indonesia, Kota Pasuruan tidak hanya merawat jejak sejarah pergulaan nasional, tetapi juga membuka ruang baru bagi edukasi, riset, dan wisata heritage yang relevan dengan perkembangan zaman.
