Liputanjatim.com – Seorang siswa salah satu Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kabupaten Situbondo menjadi korban pengeroyokan, pada Jumat (6/2/2026). Akibat insiden tersebut, korban mengalami penggumpalan darah di otak belakang.
Namun, hingga hari ini setelah lima hari setelah kejadian, Polres Situbondo belum menetapkan tersangka.
Korban berinsial MNH (18) memang sudah tidak lagi koma, namun masih sangat lemas dan sulit menelan makanan. MNH saat ini tengah mendapat perawatan intensif di RSD dr Soebandi Jember, Jawa Timur.
“Kalau makan nasi muntah, yang bisa masuk hanya air dan susu,” kata ayah korban, Miskari Harjo, mengutip Radar Situbondo pada Rabu (11/2/2026).
Miskari menyebutkan, jika rencananya anaknya akan menjalani operasi pada Kamis (12/2/2026).
“Katanya dokter, operasi pengambilan gumpalan darah pada otak belakang,” ucapnya.
Pemuda asal Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Kapongan, Situbondo, tersebut diduga dikeroyok RZ 18 dan dua temannya, RA serta JM, di Jalan Cappore, Kelurahan Ardirejo, Kecamatan Panji, pada Jumat (6/2/2026) pekan lalu.
Namun, keluarga baru mengetahui kondisinya itu keesokan harinya setelah teman-temannya mengantar pulang.
“Habis di pukuli anak saya tidak langsung pulang, masih bermalam di rumah temannya di Panarukan (Situbondo). Keesokan harinya di antarkan pulang dengan kondisi dua mata lebam,” ujar Miskari.
Polres Situbondo belum melakukan penetapan tersangka, Namun baru akan memulai pemeriksaan tiga saksi pada (12/2/2026).
Baca juga: DPRD Situbondo Bahas Perubahan Aturan Pengelolaan Aset Daerah
“Tiga saksi yang akan kami periksa adalah RZ, RA, dan JM sebagai saksi yang ada di lokasi kejadian,” ujar Kasihumas Polres Situbondo, Ipda Slamet Yuwono.
Slamet menambahkan, sejak menerima laporan dugaan pengeroyokan terhadap MNH Sabtu lalu (7/2/2026), pihaknya sudah melakukan beberapa tindakan cepat.
Di antaranya memfasilitasi visum terhadap korban hingga mendapat rujukan ke RSD dr Soebandi.
Penyidik Polres Situbondo, lanjut Slamet, juga sangat aktif berkomunikasi dengan keluarga Nurul sejak masuk ke rumah sakit.
“Penyidik dapat kiriman video dari keluarga korban. Namun, kami belum berani menyebutkan kondisi korban karena itu kan ranah kesehatan,” ujar Slamet.
Sepulangnya ke rumah, keluarga langsung melarikan MNH ke Puskesmas Kapongan.
Selanjutnya, dia dirujuk ke RS Elizabeth dan RSUD Situbondo. Namun, kedua rumah sakit itu sama-sama tidak mampu menangani.
“Saat di bawa ke Elizabeth alatnya kurang memadai, di RSUD iya juga. Terus anak saya harus dirujuk ke Jember. Hasil pemeriksaan di Jember, anak saya diduga mengalami darah beku di bagian kepala belakang hingga koma dua hari,” kata Miskari.
Keluarga berharap para pelaku bisa di tangkap dan mendapat hukuman sesuai undang-undang yang berlaku. Keluarga juga menilai pengeroyokan itu sangat brutal.
“Doakan juga ya operasinya lancar dan anak saya selamat,” kata Miskari.
