Ketua Komisi B DPRD Jatim Soroti Dampak Pelemahan Rupiah, Berikut Positif Negatifnya
Liputanjatim.com — Ketua Komisi B DPRD Jawa Timur, Anik Maslachah, mengingatkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dapat memberikan dampak serius terhadap perekonomian Jawa Timur yang selama ini ditopang sektor industri manufaktur, perdagangan, hingga UMKM.
Menurut Anik, struktur ekonomi Jawa Timur masih memiliki ketergantungan cukup tinggi terhadap bahan baku impor, sehingga gejolak kurs dolar akan langsung dirasakan pelaku usaha maupun masyarakat.
“Banyak industri di Jawa Timur, mulai makanan-minuman, petrokimia, otomotif, elektronik hingga farmasi masih menggunakan bahan baku impor. Ketika rupiah melemah, otomatis biaya produksi meningkat, harga barang naik, dan margin keuntungan perusahaan ikut tertekan,” ujarnya.
Wakil Ketua PKB Jatim ini menjelaskan, kondisi tersebut juga berpotensi memicu kenaikan inflasi daerah karena sejumlah kebutuhan penting seperti BBM, gandum, kedelai, gula, pupuk hingga barang elektronik menjadi lebih mahal. Dampaknya paling terasa bagi masyarakat perkotaan seperti Surabaya, Malang, dan Sidoarjo.
Tak hanya industri besar, politisi asal Sidoarjo ini juga menyebut UMKM juga menjadi kelompok yang rentan terdampak. Banyak pelaku usaha kecil di Jawa Timur yang menggunakan bahan baku dengan harga mengikuti kurs dolar, seperti industri makanan, percetakan, kerajinan, hingga plastik dan kemasan.
“Kalau daya beli masyarakat ikut turun, maka penjualan UMKM juga akan melemah. Padahal UMKM adalah tulang punggung ekonomi Jawa Timur,” katanya.
Selain itu, perusahaan yang memiliki utang dalam dolar juga akan menghadapi kenaikan beban cicilan dan bunga. Situasi ini dikhawatirkan dapat membuat investasi melambat karena investor menjadi lebih berhati-hati menghadapi ketidakpastian kurs.
Meski demikian, Anik menilai pelemahan rupiah juga membuka peluang bagi sektor ekspor Jawa Timur. Produk-produk ekspor seperti hasil perikanan, furnitur, alas kaki, tekstil, hingga hasil pertanian dapat menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.
“Pelemahan rupiah memang menjadi tantangan, tetapi di sisi lain juga bisa menjadi momentum memperkuat ekspor daerah. Aktivitas ekspor melalui Pelabuhan Tanjung Perak juga berpotensi meningkat,” ungkapnya.
Sektor pariwisata pun disebut dapat memperoleh dampak positif karena biaya wisata di Indonesia menjadi lebih murah bagi wisatawan asing. Kawasan wisata seperti Bromo, Batu, Banyuwangi, dan Malang dinilai berpeluang mengalami peningkatan kunjungan.
Untuk itu, Anik mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Timur segera mengambil langkah strategis guna menjaga stabilitas ekonomi daerah. Ia menilai pengendalian harga kebutuhan pokok dan perlindungan terhadap UMKM harus menjadi prioritas utama.
“Pemprov perlu memperkuat operasi pasar, menjaga stok pangan, memperlancar distribusi bahan pokok, dan mengawasi potensi penimbunan barang agar inflasi tetap terkendali,” tegasnya.
Selain itu, ia juga meminta pemerintah mempercepat pengurangan ketergantungan terhadap bahan baku impor melalui program substitusi impor, penguatan industri lokal, serta hilirisasi sektor pertanian dan petrokimia.
Anik menambahkan, dukungan terhadap UMKM harus diperkuat melalui subsidi bunga kredit, pelatihan digitalisasi, bantuan bahan baku, hingga perluasan akses pasar ekspor.
“Kalau langkah-langkah ini dilakukan secara konsisten, pelemahan rupiah tidak hanya menjadi ancaman, tetapi juga momentum memperkuat kemandirian ekonomi Jawa Timur,” pungkasnya.