Iklan
Pemerintahan

SMK Pertanian Diminta Tak Menutup Pintu, DPRD Jatim Dorong Regenerasi Petani Muda

Oleh Abdullaah AT 57 dibaca
Add on Google 💬

Liputanjatim.com — Di tengah ancaman krisis regenerasi petani, Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Erjik Bintoro menyuarakan harapan besar agar sekolah-sekolah vokasi pertanian di Jawa Timur tidak menolak calon siswa baru pada momentum Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ini.

Bagi Politisi PKB ini, ruang pendidikan pertanian tidak sekadar soal bangku sekolah, melainkan tentang menjaga denyut masa depan pangan Jawa Timur. Ia meminta Pemerintah Provinsi Jawa Timur bersama Dinas Pendidikan memberi kebijakan afirmatif agar anak-anak muda yang memiliki minat di sektor pertanian tetap mendapatkan kesempatan belajar.

“Urusan pangan adalah urat nadi Jawa Timur. Saya meminta perhatian khusus dari Ibu Gubernur dan jajaran Dinas Pendidikan untuk memastikan tidak ada anak muda yang memiliki minat di bidang pertanian justru tertolak oleh sistem PPDB atau keterbatasan kuota,” ujar Erjik Bintoro.

Menurutnya, kondisi pertanian Jawa Timur saat ini membutuhkan perhatian serius. Di satu sisi, provinsi ini memiliki hamparan lahan pertanian strategis yang luas dan membutuhkan tenaga terdidik untuk mengelolanya secara modern. Namun di sisi lain, jumlah petani muda terus menurun, sementara mayoritas petani yang ada kini telah memasuki usia lanjut.

Komisi B DPRD Jatim pun menilai regenerasi petani menjadi agenda yang tidak bisa ditunda. Pertumbuhan jumlah penduduk yang terus meningkat juga menjadi tantangan tersendiri bagi ketahanan pangan daerah, sehingga sektor pertanian membutuhkan sentuhan teknologi dan sumber daya manusia muda yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Karena itu, Erjik mendorong adanya langkah-langkah khusus dari pemerintah, mulai dari penambahan rombongan belajar (rombel), optimalisasi fasilitas asrama, hingga kebijakan lain yang memungkinkan SMK jurusan pertanian mampu menampung lebih banyak siswa.

Tak hanya itu, ia juga meminta pemerintah mulai memikirkan perluasan jurusan pertanian di sekolah-sekolah vokasi lain yang selama ini belum memiliki konsentrasi keahlian di sektor agraris.

“Kalau memang dibutuhkan, SMK yang belum memiliki jurusan pertanian juga harus mulai didorong membuka jurusan tersebut. Kita tidak boleh terlambat menyiapkan generasi penerus petani di Jawa Timur,” tegasnya.

Ia berharap sekolah-sekolah pertanian tidak memandang minimnya popularitas sektor agraris sebagai alasan untuk membatasi akses pendidikan. Sebaliknya, menurut dia, sekolah harus menjadi ruang tumbuh bagi lahirnya generasi baru petani modern dan wirausahawan pertanian.

“SMK Pertanian adalah laboratorium pencetak agropreneur masa depan. Mari kita bersinergi Pemerintah Provinsi, Dinas Pendidikan, dan pihak sekolah untuk mempermudah anak-anak kita yang ingin mengabdi pada sektor ini,” tutup Erjik.

Penulis

Abdullaah AT

Redaksi LiputanJatim menyajikan berita, informasi, dan analisis seputar Jawa Timur, nasional, politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan peristiwa terkini.

Lihat artikel penulis

Tinggalkan Komentar