Liputanjatim.com – Polemik penilaian pada final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat menjadi sorotan publik usai viral di media sosial. Perdebatan bermula dari perbedaan keputusan dewan juri terhadap dua jawaban peserta yang dinilai memiliki substansi serupa.
Peristiwa itu terjadi saat sesi pertanyaan mengenai mekanisme pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Regu C dari SMAN 1 Pontianak yang lebih dulu menekan bel menjawab bahwa anggota BPK dipilih DPR dengan mempertimbangkan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan diresmikan Presiden. Namun jawaban tersebut dinyatakan salah sehingga peserta mendapat pengurangan nilai.
Tak lama kemudian, pertanyaan yang sama diberikan kepada regu lain dan jawaban serupa justru dinilai benar oleh dewan juri. Keputusan tersebut memicu protes peserta karena dianggap tidak konsisten.
Video perdebatan di lokasi lomba kemudian ramai diperbincangkan warganet dan menuai berbagai tanggapan. Anggota DPD RI, Lia Istifhama, turut menyoroti polemik tersebut. Senator yang akrab disapa Ning Lia itu menilai respons publik mencerminkan meningkatnya sikap kritis sekaligus empati masyarakat.
“Netizen kita sekarang lebih kritis dan juga lebih humanis. Ini modal sosial yang sangat baik dan seharusnya diapresiasi,” ujarnya, Rabu (13/5/2026).
Menurutnya, keberanian peserta mempertahankan jawaban yang diyakini benar merupakan bentuk integritas yang patut dihargai, terlebih disampaikan di forum resmi berskala besar.
“Jawaban mereka benar dan mereka berani menyampaikan. Itu hal yang jarang. Saya salut atas keberanian siswa-siswa tersebut,” katanya.
Ning Lia juga menilai masyarakat kini tidak hanya bereaksi terhadap sebuah peristiwa, tetapi mulai mempertimbangkan aspek keadilan dan empati dalam melihat persoalan. Ia menyebut kondisi itu sebagai modal sosial penting dalam kehidupan demokrasi.
Sementara itu, polemik semakin ramai setelah pembawa acara, Shindy Lutfiana, menyampaikan permintaan maaf melalui media sosial atas pernyataan yang dinilai kurang tepat saat merespons protes peserta.
Di sisi lain, Ning Lia menegaskan pentingnya menjaga integritas dan akuntabilitas dalam proses penilaian, khususnya pada kegiatan resmi yang membawa nama institusi negara.
“Ini bukan hanya soal benar atau salah secara teknis, tetapi juga menyangkut integritas, keadilan, dan kepercayaan publik,” pungkasnya.
