Liputanjatim.com – Tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) yang juga anggota DPRD Jawa Timur, Jairi Irawan, menyoroti tayangan salah satu program televisi nasional yang dinilai menyudutkan dunia pesantren. Ia menilai narasi dalam tayangan tersebut berpotensi meruntuhkan eksistensi pesantren sebagai pilar penting pendidikan dan keindonesiaan.
“Jika dilihat dari narasinya seakan ada upaya untuk meruntuhkan eksistensi pesantren sebagai salah satu pilar pendidikan,” katanya saat dihubungi dari Surabaya, Kamis (16/10/2025).
Menurut Jairi, peristiwa ini terasa lebih menyakitkan karena terjadi di bulan santri, menjelang peringatan Hari Santri Nasional pada 22 Oktober mendatang. Ia pun menyerukan agar seluruh elemen bangsa bersatu membentengi pesantren dari berbagai narasi yang dapat menggerus nilai dan kehormatan kiai.
“Dalam sebuah program televisi seharusnya ada quality control sebelum tayang agar produk tersebut sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Ia juga menilai pihak stasiun televisi perlu melakukan konsultasi atau meminta second opinion dari kalangan yang memahami kultur pesantren agar prinsip cover both side benar-benar terpenuhi. Dengan begitu, tidak ada pihak yang dirugikan dan tayangan tetap mencerminkan nilai objektivitas jurnalistik.
Sebagai pengurus Gerakan Pemuda Ansor Jawa Timur, Jairi menegaskan pentingnya memahami perbedaan nilai budaya setiap komunitas. Menurutnya, pemahaman terhadap sense of culture akan melahirkan informasi yang konstruktif, bukan provokatif.
Sebagai seorang santri, ia menolak anggapan bahwa kehidupan pesantren identik dengan tekanan atau paksaan terhadap santri.
“Sikap tawadhu seorang santri kepada kiai sebagai pembimbing jiwa tidak mungkin luntur hingga kapan pun,” ucapnya.
Jairi juga menjelaskan, kegiatan ro’an atau kerja bersama di lingkungan pesantren dilakukan secara sukarela. Aktivitas itu justru menjadi bagian dari pembentukan karakter santri dan pengisi waktu istirahat di tengah rutinitas belajar kitab dan kegiatan keagamaan.
