Liputanjatim.com – Belajar sejarah masih banyak diminati para pemuda. Hal itu terlihat dari antusiasme peserta dalam kegiatan belajar bersama tentang Aksara Kawi yang digelar Komunitas Bojonegoro History sebagai ruang edukasi untuk memahami sejarah sekaligus menciptakan ruang belajar setara.
Di sudut sebuah kedai di Jalan Jiken, Kelurahan Kepatihan, Kecamatan Kota, suasana pagi tampak berbeda dari biasanya. Belasan pemuda terlihat sibuk menyiapkan proyektor dan duduk melingkar untuk mengikuti workshop pengenalan Aksara Kawi atau Bahasa Jawa Kuno.
Kegiatan perdana Komunitas Bojonegoro History tersebut dikemas layaknya workshop dan diikuti berbagai kalangan. Selain menjadi alternatif edukasi sejarah, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat kesadaran pelestarian budaya lokal.
Ketua Panitia, Gema Romadhoni mengatakan, kegiatan yang digelar pada 1-3 Mei itu menghadirkan mentor Juan Steven, alumni Arkeologi Universitas Udayana.
āRencana jadi agenda tahunan,ā ujar Gema Romadhoni.
Menurutnya, kegiatan belajar bersama ini menjadi ruang terbuka bagi masyarakat Bojonegoro untuk membangun ekosistem pembelajaran yang partisipatif dan inklusif.
āMelalui kegiatan ini kami ingin menghadirkan ruang belajar setara, semua peserta dapat memahami lebih jauh Aksara Kawi sebagai bagian penting dari sejarah dan kebudayaan,ā ujarnya.
Gema menjelaskan, kegiatan dilaksanakan selama tiga hari. Pada hari pertama, peserta diperkenalkan dasar-dasar Aksara Kawi mulai dari bentuk huruf, karakter, hingga latihan membaca dan menulis.
Kemudian pada hari kedua, peserta mendapatkan materi teknik riset dan pendataan objek yang diduga sebagai cagar budaya. Materi tersebut dilanjutkan dengan praktik langsung di sekitar lokasi workshop.
Memasuki hari ketiga, peserta melakukan riset lapangan ke Situs Jipangulu di Desa Ngelo, Kecamatan Margomulyo. Di lokasi tersebut, peserta belajar mengidentifikasi kawasan situs dan menelusuri temuan benda purbakala seperti fragmen gerabah, keramik, batu bata merah hingga batuan yang diduga bagian dari struktur candi.
āKegiatan ditutup dengan proses pendataan temuan secara menyeluruh,ā lanjut Gema.
Ia berharap, melalui kegiatan ini minat generasi muda dalam mempelajari sejarah dan budaya lokal terus tumbuh serta mendorong lahirnya kegiatan serupa di masa mendatang.
Salah satu peserta, Anif Musyafaāah Harnianti mengaku mendapatkan pengalaman baru selama mengikuti kelas tersebut. Menurutnya, belajar Aksara Kawi menjadi pengalaman pertama yang menyenangkan karena suasana kelas dibuat santai namun tetap fokus.
āIni pertama kali saya belajar Aksara Kawi, dan ternyata seasik ini. Suasananya santai, tidak terlalu formal, jadi lebih mudah fokus dan benar-benar menikmati proses belajarnya,ā ungkapnya.
