Liputanjatim.com – Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Abdul Qodir, menilai melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS menjadi tantangan makroekonomi yang perlu diwaspadai bersama. Menurutnya, pelemahan rupiah terhadap dolar memberikan dampak cukup kompleks terhadap perekonomian Jatim yang memiliki struktur ekonomi beragam.
Politisi PKB ini menjelaskan, sektor industri manufaktur menjadi salah satu yang paling merasakan tekanan. Masih banyak indurstri di Jatim yang bergantung pada bahan baku dan komponen impor.
Akibatnya, ketika rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat dan berdampak pada naiknya ongkos produksi. Kondisi tersebut dinilai dapat menggerus margin keuntungan perusahaan apabila kenaikan biaya tidak mampu dibebankan kepada konsumen.
“Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memicu efisiensi tenaga kerja dan memperlambat ekspansi industri,” katanya.
Selain industri, sektor pertanian dan ekonomi perdesaan juga dinilai rentan terdampak. Abdul Qodir menyebut sejumlah kebutuhan pertanian seperti pupuk non-subsidi, pestisida hingga pakan ternak masih memiliki ketergantungan terhadap bahan impor.
“Kalau biaya produksi naik sementara harga jual tidak ikut naik, maka daya beli masyarakat desa juga akan ikut tertekan,” ungkapnya.
Meski demikian, Abdul Qodir menilai ada sektor yang diuntungkan atas pelemahan rupiah terhadap dolar, seperti sektor ekspor dan pariwisata. Produk-produk berorientasi ekspor seperti olahan makanan laut, kerajinan, produk kayu hingga perhiasan dinilai menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.
“Pendapatan eksportir yang berbasis Dolar tentu meningkat ketika dikonversikan ke Rupiah. Ini bisa menjadi momentum memperkuat pasar ekspor daerah,” ujarnya.
Abdul Qodir juga mendorong Pemprov Jatim agar menguatkan sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Menurutnya, UMKM di Jatim selama ini terbukti lebih tangguh menghadapi gejolak ekonomi global karena mayoritas menggunakan bahan baku lokal dan menyasar pasar domestik.
“UMKM menjadi bantalan ekonomi Jawa Timur. Ketika sektor besar terdampak fluktuasi kurs akibat ketergantungan impor, UMKM justru relatif lebih stabil karena berbasis potensi lokal,” ujar Abdul Qodir.
Ia mengatakan, kondisi pelemahan Rupiah harus dijadikan momentum untuk memperkuat produk-produk lokal agar mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional. Pemerintah daerah dinilai perlu hadir dengan kebijakan konkret mulai dari akses permodalan, pendampingan usaha, hingga perluasan pasar digital.
“Ketika Rupiah melemah, produk lokal sebenarnya menjadi lebih kompetitif di pasar luar negeri. Ini peluang yang harus dimanfaatkan UMKM untuk naik kelas,” pungkasnya.
