Cak Imin Apresiasi Pesantren BIMA Kirim 175 Santri Kuliah ke Luar Negeri
Liputanjatim – Ketua Umum DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Muhaimin Iskandar, menghadiri Wisuda Kelas XII SMA dan MA Unggulan Bertaraf Internasional serta SMK Unggulan Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), Cirebon, Minggu (28/6/2026) malam.
Dalam sambutannya, Muhaimin yang akrab disapa Cak Imin mengapresiasi perkembangan Pesantren BIMA yang dinilainya memiliki konsep pendidikan visioner dan mampu menjawab tantangan zaman.
Ia mengungkapkan, pertama kali mengenal Pengasuh Ponpes BIMA, KH Imam Jazuli, melalui media sosial. Ketertarikannya kemudian mendorongnya untuk berkunjung langsung ke pesantren tersebut.
“Saya kenal beliau bukan langsung bertemu, tetapi lewat Instagram. Saya melihat ada pesantren yang unik, bangunannya bagus, suasananya luar biasa. Saya sempat bertanya kepada Kiai Said Aqil Siradj, dan beliau mengatakan memang pesantren ini luar biasa. Akhirnya saya beberapa kali sowan ke BIMA dan semakin yakin bahwa pesantren ini memiliki visi, tahapan, dan model pendidikan yang sangat jelas,” ujar Cak Imin.
Menurutnya, keberhasilan para lulusan Pesantren BIMA saat ini menjadi bukti bahwa konsep pendidikan yang dibangun sejak awal telah berjalan sesuai arah yang direncanakan.
“Ini menunjukkan bahwa Kiai Imam Jazuli sejak awal memiliki konsep, arah, dan tujuan yang jelas. Apa pun program studi yang dipilih para santri, kalau fondasinya kuat, insyaallah akan berhasil sesuai tahapannya,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Cak Imin juga mengungkapkan pernah berdiskusi dengan KH Imam Jazuli mengenai penyusunan kurikulum pesantren yang dinilai efektif dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
“Saya pernah bertanya kepada beliau, apakah pengalaman belajar puluhan tahun di Lirboyo bisa dipadatkan menjadi beberapa tahun. Beliau menjawab sangat bisa. Karena itu kurikulum yang disusun benar-benar menjawab kebutuhan dan tantangan zaman,” ungkapnya.
Didampingi Bendahara Umum DPP PKB Bambang Susanto, Ketua DPW PKB Jawa Barat Syaiful Huda, serta sejumlah anggota DPR RI Fraksi PKB, Cak Imin menyatakan optimistis lulusan Pesantren BIMA akan menjadi bagian penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.
Ia menekankan, santri masa depan harus memiliki tiga bekal utama, yakni kompetensi, integritas, dan kepatuhan terhadap ilmu pengetahuan.
“Santri harus memenuhi tiga syarat. Pertama memiliki skill dan kemampuan. Kedua memiliki integritas. Ketiga taat asas terhadap ilmu pengetahuan,” tegasnya.
Cak Imin juga mengingatkan para wisudawan bahwa Indonesia tengah memasuki era bonus demografi yang akan menjadi momentum penting bagi generasi muda untuk mengambil peran dalam pembangunan nasional.
“Kalau sekarang kalian lulus, berarti tahun 2030 kalian sudah mulai memegang kendali. Muhaimin Iskandar boleh gagal, tetapi lulusan BIMA tahun 2030 tidak boleh gagal. Modal kalian sangat besar, dan bonus demografi itu mutlak ada di tangan kalian,” ujarnya.
Sementara itu, Pengasuh Ponpes BIMA, KH Imam Jazuli, menyampaikan rasa syukur atas capaian para santri yang terus meningkat setiap tahun.
Ia optimistis target melahirkan 1.000 sarjana di perguruan tinggi internasional dan 1.000 sarjana di perguruan tinggi negeri (PTN) dalam negeri dapat tercapai lebih cepat dari rencana.
“Target kami tahun 2028 harus ada 1.000 sarjana di kampus internasional dan 1.000 sarjana di PTN nasional.
Namun melihat perkembangan saat ini, insyaallah target tersebut akan tercapai pada tahun 2027,” katanya.
Ia menjelaskan, tahun ini sebanyak 175 santri akan melanjutkan pendidikan ke berbagai negara, seperti Rusia, Tiongkok, Tunisia, dan sejumlah negara di Timur Tengah.
Selain itu, 99 santri diterima di berbagai perguruan tinggi negeri di Indonesia, mayoritas pada program studi umum.
KH Imam Jazuli menambahkan, santri yang menempuh pendidikan di luar negeri tidak hanya mengambil jurusan keagamaan, tetapi juga berbagai disiplin ilmu strategis yang dibutuhkan bangsa.
“Dari 13 santri yang berangkat ke Tunisia, hanya dua orang yang mengambil bidang agama. Selebihnya mengambil bidang-bidang umum,” ujarnya.
Menurutnya, pesantren harus mampu mencetak generasi yang tidak hanya memiliki akhlak dan pemahaman agama yang baik, tetapi juga menguasai ilmu pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk membangun bangsa.
“Saya ingin menggerakkan pesantren-pesantren secara nasional agar memiliki visi yang sama, bukan sekadar mencetak santri yang saleh, tetapi juga mencetak santri yang bermanfaat, membangun negeri, dan menguasai berbagai bidang ilmu yang dibutuhkan negara,” pungkasnya.