Iklan
Nasional

Musim Kemarau, 300 KK di Jatim-Jateng Krisis Air Bersih

Oleh Pamela 11 dibaca
Add on Google 💬

Liputanjatim – Memasuki musim kemarau, dampak kekeringan mulai dirasakan di sejumlah wilayah di Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 300 kepala keluarga (KK) di Jawa Timur dan Jawa Tengah mengalami krisis air bersih akibat menurunnya debit sumber air.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan, wilayah yang terdampak berada di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, dan Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat telah melakukan langkah darurat dengan menyalurkan bantuan air bersih kepada warga.

Di Kabupaten Pasuruan, penurunan ketersediaan air bersih terjadi di Desa Kadungrejo, Kecamatan Winongan.

Sedikitnya 240 KK terdampak akibat berkurangnya pasokan air yang selama ini menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat.

“Berdasarkan laporan, ketersediaan air bersih di Desa Kadungrejo, Kecamatan Winongan, mulai mengalami penurunan. BPBD Kabupaten Pasuruan melakukan penanganan darurat dengan mendistribusikan bantuan air bersih sebanyak empat rit ke Dusun Krajan 5 dan Dusun Grobyok guna memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak,” ujar Abdul dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (5/7/2026).

Sementara itu, di Kabupaten Semarang, kekeringan melanda Desa Kemitir, Kecamatan Sumowono.

Sebanyak 60 KK atau 84 jiwa terdampak akibat menurunnya pasokan air bersih.

Sebagai langkah penanganan, BPBD Kabupaten Semarang berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk melakukan asesmen lapangan sekaligus menyalurkan bantuan air bersih kepada warga terdampak.

Sebanyak dua tangki air dengan kapasitas sekitar 5.000 liter didistribusikan ke Dusun Ngoho, Desa Kemitir.

“Sebanyak dua tangki air atau sekitar 5.000 liter didistribusikan kepada warga di Dusun Ngoho, Desa Kemitir,” katanya.

BNPB mengingatkan bahwa potensi kekeringan masih dapat meluas seiring berlangsungnya musim kemarau.

Karena itu, masyarakat diminta menggunakan air secara bijak dan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan.

“Menyikapi bencana akibat musim kemarau yang terjadi di sejumlah wilayah, BNPB mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk meningkatkan kesiapsiagaan dengan tidak melakukan pembakaran lahan, menggunakan air secara bijak, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan maupun kekeringan,” tambahnya.

Selain mengimbau masyarakat, BNPB juga meminta pemerintah daerah memperkuat upaya mitigasi dengan memantau wilayah rawan kekeringan secara berkala. 

Seperti menyiapkan sumber daya untuk penanganan darurat, serta memastikan ketersediaan pasokan air bersih bagi masyarakat yang berpotensi terdampak selama musim kemarau berlangsung.

Penulis

Pamela

Redaksi LiputanJatim menyajikan berita, informasi, dan analisis seputar Jawa Timur, nasional, politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan peristiwa terkini.

Lihat artikel penulis

Tinggalkan Komentar