Gus Halim Dorong Unesa Jadi Pelopor Gagasan Kebijakan Publik
SURABAYA – Anggota Komisi I DPR RI, Abdul Halim Iskandar atau Gus Halim, mendorong civitas akademika Universitas Negeri Surabaya (Unesa) untuk terus menjadi pelopor dalam melahirkan gagasan dan rekomendasi kebijakan yang berdampak bagi masyarakat.
Liputanjatim.com – SURABAYA – Anggota Komisi I DPR RI, Abdul Halim Iskandar atau Gus Halim, mendorong civitas akademika Universitas Negeri Surabaya (Unesa) untuk terus menjadi pelopor dalam melahirkan gagasan dan rekomendasi kebijakan yang berdampak bagi masyarakat.
Hal itu disampaikan Gus Halim saat menghadiri kegiatan Policy Paper Competition Quo Vadis PP TUNAS Nomor 17 Tahun 2025 yang digelar di Aula Rektorat Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Senin (8/6/2026).
Dalam sambutannya, Gus Halim mengapresiasi penyelenggaraan kompetisi yang melibatkan mahasiswa, dosen, hingga para akademisi dalam merumuskan berbagai rekomendasi kebijakan terkait implementasi Peraturan Pemerintah (PP) TUNAS Nomor 17 Tahun 2025.
“Unesa memiliki jargon yang sangat kuat, yaitu Selangkah di Depan. Ini jangan hanya jadi jargon, Jadi harus betul-betul kita wujudkan bahwa dimanapun, kapanpun, dengan siapapun, Unesa harus selalu selangkah di depan,” ujar Gus Halim.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghadirkan solusi berbasis riset dan kajian akademik terhadap berbagai persoalan pembangunan nasional.
Ia menilai policy paper competion ini tidak sekadar menjadi ajang akademik, melainkan ruang untuk mempertemukan gagasan, data, dan analisis yang dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan publik.
“PP 17 Tahun 2025 ini berupaya maksimal agar dampak-dampak negatif dari digitalisasi yang sangat maju hari ini itu bisa diminimalisir dan kemudian ditelaah oleh adik-adik mahasiswa, sehingga berarti saya lihat paparannya bagus-bagus, kita tahu banyak juga kelemahan-kelemahannya. Tapi juga banyak sekali kelebihan-kelebihannya.”
Mantan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (MendesPDTT) itu mengatakan berbagai masukan yang disampaikan peserta memiliki nilai strategis karena lahir dari perspektif akademik yang independen dan berbasis penelitian.
“Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh peserta yang telah menyusun dan mempresentasikan policy paper terbaiknya. Gagasan-gagasan yang lahir dari forum ini sangat penting sebagai referensi dalam proses pengambilan kebijakan,” katanya.
Gus Halim menegaskan hasil pemaparan dan rekomendasi yang disampaikan para peserta tidak akan berhenti di ruang kompetisi semata.
Ia berkomitmen membawa berbagai masukan tersebut ke tingkat yang lebih luas, termasuk dalam pembahasan di DPR RI.
“Ini yang nanti akan kemudian kita kristalisasikan, kita kompilasikan, dan kita rekomendasikan kepada pemerintah yang kebetulan saya ada di komisi satu yang membidangi ini, Sehingga pikiran-pikiran adik-adik mahasiswa yang tadi sudah disampaikan, insyaallah akan saya kompilasi dan akan saya sampaikan kepada pemerintah,” ungkapnya.
Menurut Gus Halim, kolaborasi antara dunia akademik dan pembuat kebijakan perlu terus diperkuat agar kebijakan yang dihasilkan pemerintah semakin responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Ia juga berharap kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan secara berkelanjutan sebagai wadah bagi generasi muda untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan melalui gagasan dan inovasi kebijakan.
Sementara itu, kegiatan Policy Paper Competition Quo Vadis PP TUNAS Nomor 17 Tahun 2025 diikuti oleh mahasiswa dari berbagai program studi yang mempresentasikan hasil kajian dan rekomendasi kebijakan terkait implementasi regulasi tersebut.
Forum ini menjadi ruang diskusi antara akademisi, mahasiswa, dan pemangku kepentingan untuk memperkaya perspektif serta menghasilkan rekomendasi yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi perumusan kebijakan publik yang lebih efektif dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
