Rupiah Melemah, Omzet Furnitur Surabaya Anjlok
Liputanjatim.com - Pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir memberikan tekanan pada industri furnitur di Surabaya, Jawa Timur.
Liputanjatim.com – Pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir memberikan tekanan pada industri furnitur di Surabaya, Jawa Timur.
Kenaikan harga bahan baku impor dan perubahan pola belanja masyarakat yang lebih memilih produk ekonomis menyebabkan penjualan mengalami penurunan.
Fathurachman (51), pengusaha furnitur di Surabaya, mengungkapkan jika terjadi kenaikan hingga 20 persen pada bahan baku. Sehingga, ia harus menaikkan harga produk.
“Rata-rata bahan bakunya juga naik sekitar 20 persen. Alat-alat yang digunakan juga ada yang impor. Terpaksa juga kami menaikkan harga produk,” kata Fathur dalam keterangan tertulis, Minggu (7/6/2026).
Kurs rupiah pada Senin (8/6/2026) tercatat di level Rp18.095,70 per dolar AS.
Pelemahan tersebut berdampak pada kenaikan harga berbagai komoditas impor, termasuk benang, jarum, dan cat yang digunakan dalam proses produksi usaha milik Fathur.
Fathur sebelumnya mampu menghasilkan hingga tiga unit furnitur per hari dengan dukungan 35 tenaga kerja.
Namun, aktivitas di lokasi produksinya di Kabupaten Pasuruan kini berkurang setelah sejumlah karyawan terpaksa dirumahkan.
“Karena efisiensi dan sekarang perampingan karyawan dari semula 35 orang sekarang 15 karyawan. Saya senang bisa membuka lapangan pekerjaan, tapi kondisinya sekarang kurang baik,” jelasnya.
Pemilik CV Fathur Harapan Mulia itu berharap perekonomian nasional segera membaik sehingga iklim usaha kembali kondusif dan daya beli masyarakat dapat meningkat.
Fathur mengungkapkan bahwa pendapatan usahanya saat ini mengalami penurunan hingga 60 persen. Kondisi tersebut, menurutnya, sudah mulai dirasakan sejak sekitar dua tahun terakhir.
“Kondisi sekarang lebih parah. Waktu pandemi itu masih mending, konsumen masih beli online, masih ada perputaran uang. Sekarang omzet turun drastis 60 persen, turun bertahap sejak dua tahun terakhir,” kata Fathur.
Kondisi tersebut tidak hanya dialami Fathur. Rekan-rekannya sesama pengusaha furnitur juga mengaku mengalami penurunan usaha, hingga sebagian memilih menutup gerai di mal.
Menurut Fathur, daya beli masyarakat mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Kondisi ekonomi yang belum stabil membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam berbelanja, ditambah harga bahan baku yang meningkat akibat penguatan dolar AS.
“Sekarang pembeli saya lebih mengutamakan fungsi dan harganya murah. Tidak lagi melihat estetikanya. Mereka tidak lagi nyari kayu bagus, jadi polanya geser sekarang,” ungkapnya.
Perubahan pola konsumsi masyarakat juga menjadi tantangan tersendiri bagi usaha Fathur.
Ia menyebut konsumen cenderung mencari furnitur dengan harga ekonomis di e-commerce, sedangkan produknya menyasar kalangan atas.
“Produk yang tak jual paling murah Rp 3 sampai Rp 4 jutaan. Saya menyadari perlu mengubah pangsa pasar tapi belum berani ekspansi karena biayanya tidak sedikit,” bebernya.
