Oleh : Nasfa Uuth Akhmadie (Ketua Garda Bangsa Kota Surabaya, Wakil Ketua PC GP Ansor Kota Surabaya)
Titik Berangkat
Sudah 90 tahun lebih berlalu sejak ikrar legendaris itu dikumandangkan. Tanggal 28 Oktober 1928 bukan cuma sekadar angka di kalender, tapi sebuah momen di mana para pemuda dari berbagai latar belakang bersepakat untuk bersatu. Sumpah Pemuda itu ibarat api yang tidak pernah padam. Meski zaman sudah berubah, semangatnya tetap relevan buat kita, generasi muda masa kini.
Dalam kaca mata Islam Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah, sebuah janji atau ikrar adalah sesuatu yang sangat kokoh. Ada prinsip yang mengatakan, “Al-Mu’āhadatu kal ‘aqdi”. Artinya, sebuah perjanjian itu laksana ikatan yang kuat dan harus ditepati. Ikrar para pemuda pada 1928 itu adalah ikatan suci bagi seluruh bangsa Indonesia, warisan moral yang harus dirawat dan dihidupi oleh setiap generasi.
Lebih Dari Sekadar Teks:
Dari Ikrar Jadi AksiSering kali, tiga butir Sumpah Pemuda hanya menjadi hafalan di buku pelajaran. Padahal, di balik kata-kata itu tersimpan tekad kolektif untuk menjaga Indonesia agar tetap utuh, berdaulat, dan bermartabat. Ia adalah “mandat moral” yang dititipkan para pendahulu untuk diteruskan dan diwujudkan dalam tindakan nyata.
Lihatlah kondisi sekarang. Media sosial yang seharusnya jadi ruang untuk berdiskusi dan bertukar pikiran, malah sering berubah jadi gelanggang pertengkaran. Perbedaan pendapat menjadi semakin tajam karena kita terkungkung dalam “ruang gema” atau echo chamber, di mana algoritma hanya memperlihatkan apa yang kita suka dan percaya.
Di sinilah prinsip Nahdlatul Ulama (NU) bisa menjadi penuntun: “Al-Muhāfaẓatu ‘alā qadīmis shālih wal akhdu bil jadīdil ashlah”. Prinsip ini mengajak untuk menjaga tradisi lama yang masih baik dan mengambil hal baru yang lebih bermanfaat. Keragaman suku, agama, dan budaya adalah “tradisi lama yang baik” warisan Nusantara yang harus terus dijaga. Sementara teknologi digital adalah “hal baru” yang harus disikapi dengan bijak, bukan untuk memecah belah, justru untuk memperkuat persatuan
Jiwa Kepemimpinan:
Kontribusi Nyata di Atas PencitraanMinat anak muda terhadap isu-isu sosial dan politik sebenarnya sangat besar. Hal ini terlihat dari banyaknya campaign dan gerakan yang lahir dari platform digital. Sayangnya, semangat ini kadang terkotori oleh keinginan untuk sekadar populer atau mendapatkan pengakuan semata. Padahal, esensi kepemimpinan tidak diukur dari jumlah followers atau seberapa viral konten di media sosial.
Kepemimpinan sejati justru terlihat dari kepekaan terhadap persoalan di sekitar, terutama suara-suara dari mereka yang jarang terdengar. Spirit kepemimpinan ala NU menekankan bahwa politik dan kepemimpinan harus dijiwai oleh semangat keadilan sosial dan keberpihakan kepada mereka yang lemah (dhu’afa). Hal ini merujuk pada sebuah kaidah penting: “Tasharruful imām ‘alā ra’iyyatihī manūṭun bil maslahah”. Artinya, setiap kebijakan dan tindakan seorang pemimpin harus dilandasi oleh pertimbangan kemaslahatan untuk rakyatnya. Jadi, fokusnya adalah memberi manfaat, bukan mengejar popularitas.
Menjadi Pemuda Berpijar, Bukan Sekadar Berkedip
Peringatan Sumpah Pemuda setiap tahunnya mengajak generasi muda untuk menjadi pribadi yang “berpijar”, bukan cuma “berkedip”. Apa bedanya?
Pemuda yang “berkedip” mungkin hanya tampil sesaat, viral sebentar lalu hilang. Sedangkan pemuda yang “berpijar” adalah mereka yang memiliki keteguhan hati, konsistensi, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan. Mereka adalah pribadi yang produktif dan memberikan cahaya bagi sekitarnya.
Semangat ini sangat sejalan dengan ajaran Islam yang penuh dengan optimisme dan etos kerja. Dalam tradisi Aswaja, dikenal prinsip “Al-‘amalu khairun min al-qaul”, yang berarti bekerja dan berbuat nyata jauh lebih baik daripada sekadar bicara. Perjuangan membangun negeri ini bukanlah soal menang atau kalah dalam perdebatan, tapi tentang bagaimana menjaga api semangat dan idealisme agar tetap menyala. Semangat ini bisa diwujudkan dengan tiga sikap inti: Ikhlas, Istiqomah, dan Khidmah—tulus, konsisten, dan mengabdi untuk umat dan bangsa.
Penutup: Merawat Warisan, Menulis Masa Depan
Jadi, Sumpah Pemuda bukanlah monumen usang yang hanya bisa dilihat dari jauh. Ia adalah mandat moral yang hidup dan terus bernapas dalam setiap langkah generasi muda. Empat pilar penting yang bisa dipegang—sumpah sebagai janji kolektif, kepemimpinan yang peduli, semangat hukum yang berkeadilan, dan kedaulatan dalam bermedia digital—semuanya mendapatkan pijaran dari nilai-nilai Islam Ahlussunnah Wal Jamaah An-Nahdliyah yang moderat, ramah, dan kontekstual.
Generasi muda dengan energi, kreativitas, dan keterampilan digital yang dimiliki punya potensi besar untuk mewujudkan cita-cita mulia Sumpah Pemuda: Indonesia yang benar-benar berdaulat, adil, dan bermartabat di mata dunia. Dengan memilih untuk menjadi pemuda yang “berpijar”, generasi sekarang tidak hanya meneruskan estafet perjuangan, tetapi juga memberi makna dan warna baru yang relevan untuk Indonesia masa kini dan masa depan.
