Iklan
Pemerintahan

Pagar Tinggi Sejumlah Mal Surabaya Disorot, Eri Cahyadi: Surabaya Aman

Oleh Pamela 50 dibaca
Add on Google 💬

SURABAYA – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meminta pengelola pusat perbelanjaan atau mal di Kota Pahlawan tidak memasang pagar dengan ketinggian berlebihan.

Menurut Eri, keberadaan pagar yang terlalu tinggi justru dapat memunculkan kesan bahwa Surabaya merupakan kota yang tidak aman.

Eri mengatakan telah bertemu dengan sejumlah pengelola mal di Surabaya dan menyampaikan agar pagar yang dipasang tidak dibuat terlalu tinggi.

Ia menilai keberadaan pagar tetap diperbolehkan selama tidak mengganggu estetika bangunan maupun kenyamanan masyarakat yang melintas.

“Jadi insyaallah nanti kami koordinasikan, yang saya ingin ketika ada pagar itu ada, orang jalan itu semakin terang, tidak terlalu tinggi yang mencerminkan orang itu merasa takut. Padahal kota Surabaya ini aman,” kata Eri, Rabu (5/8/2026).

Eri menegaskan, dirinya tidak meminta pengelola mal membongkar pagar yang sudah terpasang.

Ia hanya meminta agar ketinggian pagar disesuaikan sehingga tidak menimbulkan kesan tertutup dan berlebihan.

Menurutnya, tidak semua mal di Surabaya memasang pagar tinggi.

Sejauh ini, kata Eri, hanya terdapat sekitar dua atau tiga pusat perbelanjaan yang memasang pagar dengan kondisi tersebut.

“Kenapa kami tidak menyampaikan itu (pembongkaran pagar) karena tidak semua mal di Surabaya begitu. Hanya dua atau tiga mal saja,” ujarnya.

Bukan Antisipasi Aksi Massa

Eri juga memastikan pemasangan pagar di sejumlah mal bukan ditujukan untuk mengantisipasi aksi massa atau kondisi sosial-politik tertentu.

Menurutnya, pengelola mal memasang pagar dengan pertimbangan keamanan dan keselamatan pengunjung.

Ia mencontohkan kondisi di kawasan Tunjungan Plaza. Pengunjung yang keluar-masuk mal terkadang masih menyeberang Jalan Basuki Rahmat secara sembarangan, meskipun telah tersedia Jembatan Penyeberangan Orang (JPO).

Kondisi tersebut, menurut Eri, justru berpotensi membahayakan pengunjung maupun pengendara yang melintas di Jalan Basuki Rahmat.

“Kalau orang menyeberang kan langsung di depan itu, jadi orang lompat menyeberangi. Kami juga sering tegur, agar orang tidak menyeberang di depan Tunjungan Plaza, karena sudah ada JPO,” katanya.

Eri mengatakan pihak pengelola mal sebelumnya menjelaskan pagar dibuat agar pengunjung dapat diarahkan keluar melalui sisi kanan atau kiri sekaligus memudahkan pengawasan.

Namun, ia meminta ketinggian pagar tidak berlebihan sehingga tidak menimbulkan persepsi seolah-olah terdapat ancaman keamanan di sekitar mal.

“Mereka menyampaikan, diberi pagar sehingga bisa keluar ke kanan atau kiri dan bisa dipantau. Tapi saya bilang pagarnya jangan terlalu tinggi, dipikir nanti ada apa-apa atau rasa kekhawatiran, padahal tidak seperti itu,” ujar Eri.

Dishub Pasang Barrier Beton

Untuk mencegah pengunjung maupun pejalan kaki menyeberang sembarangan di Jalan Basuki Rahmat, Pemerintah Kota Surabaya melalui Dinas Perhubungan (Dishub) juga telah memasang barrier atau pembatas beton.

Pembatas tersebut dipasang agar masyarakat tidak langsung menyeberang dari satu sisi jalan ke sisi lainnya dan dapat menggunakan JPO yang telah disediakan.

Eri menyebut penggunaan barrier beton dipilih demi menjaga keselamatan pengendara.

Menurutnya, pembatas berbahan plastik lebih mudah digeser sehingga berpotensi menimbulkan risiko bagi kendaraan yang melintas.

“Kalau barrier-nya plastik, kan gampang digeser. Itu justru membahayakan pengendara,” ujarnya.

Pagar Tinggi Jadi Sorotan

Pemasangan pagar tinggi di sejumlah pusat perbelanjaan belakangan menjadi perhatian publik dan ramai diperbincangkan di media sosial.

Fenomena tersebut tidak hanya terlihat di Surabaya, tetapi juga terjadi di sejumlah kota lain, termasuk Jakarta.

Salah satu pusat perbelanjaan yang diketahui memasang pagar adalah Mal Kota Kasablanka.

Di Surabaya, sejumlah mal yang berada di bawah pengelolaan Pakuwon Group juga terlihat memasang pagar di area sekitar gedung.

Pagar tersebut antara lain terlihat di Pakuwon Mall, Royal Plaza, Pakuwon City Mall, dan Tunjungan Plaza.

Pemasangan pagar tersebut kemudian memunculkan beragam spekulasi di tengah masyarakat.

Sebagian warganet mengaitkannya dengan isu kondisi ekonomi maupun kemungkinan antisipasi terhadap situasi sosial-politik.

Namun, dugaan tersebut telah dibantah oleh pihak Pakuwon Group.

Direktur Marketing Pakuwon Group Sutandi Purnomosidi menegaskan pembangunan pagar di sejumlah pusat perbelanjaan milik perusahaan tidak berkaitan dengan upaya mengantisipasi kondisi tertentu, termasuk persoalan sosial-politik.

“Tidak ada antisipasi apa pun. Kita yakin Indonesia aman sejahtera,” kata Sutandi, Jumat (17/7/2026).

Menurut Sutandi, kondisi bisnis Pakuwon Group justru menunjukkan perkembangan positif sepanjang semester pertama 2026.

Ia mengatakan kinerja perusahaan, termasuk sektor ritel, masih berjalan baik.

“Kalau ekonomi tidak baik-baik saja, justru sebenarnya Pakuwon Group ini sedang bagus di semester pertama tahun 2026 ini,” ujarnya.

Sutandi juga mengatakan kondisi bisnis ritel Pakuwon Group tetap baik selama periode libur sekolah.

Sebagai perusahaan terbuka, laporan keuangan Pakuwon Group juga dapat diakses oleh publik.

“Pakuwon ini kan Tbk, jadi bisa dicek laporan keuangan yang kita buat. Dan kalau kondisi retail pun sampai kemarin libur sekolah, semua baik-baik saja,” katanya.

Ia menjelaskan pemasangan pagar merupakan bagian dari aspek keamanan yang lazim diterapkan pada sebuah bangunan.

Sutandi kemudian membandingkannya dengan keberadaan pagar di rumah pribadi.

Menurutnya, keberadaan pagar pada dasarnya memiliki fungsi utama untuk keamanan dan tidak serta-merta menunjukkan adanya ancaman tertentu.

“Misal netizen punya rumah, punya pagar. Fungsinya untuk apa sih? Fungsinya untuk apa? Pagar untuk apa? Ya, pasti pertama untuk keamanan,” ujarnya.

Di tengah ramainya pembahasan mengenai pagar mal, Pemkot Surabaya menekankan agar aspek keamanan tetap berjalan tanpa menghilangkan kesan terbuka dan nyaman bagi masyarakat.

Eri berharap pagar yang dipasang tidak terlalu tinggi sehingga tetap menjaga estetika kawasan sekaligus tidak memunculkan persepsi bahwa Surabaya merupakan kota yang rawan.

Dengan demikian, pengamanan pusat perbelanjaan diharapkan tetap dapat dilakukan secara proporsional, sementara masyarakat tetap merasa aman dan nyaman saat beraktivitas di ruang publik.

Penulis

Pamela

Redaksi LiputanJatim menyajikan berita, informasi, dan analisis seputar Jawa Timur, nasional, politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan peristiwa terkini.

Lihat artikel penulis

Tinggalkan Komentar