Iklan
Jatim

Warga 10 Desa Blokade Jalur Pantura Pasuruan–Probolinggo, Protes Peluru Nyasar

Oleh Admin_LJ 5 dibaca
Add on Google 💬

Liputanjatim.com — Warga dari 10 desa di Kecamatan Lekok dan Nguling, Kabupaten Pasuruan, ramai-ramai turun ke jalan dan memblokade jalur Pantura Pasuruan–Probolinggo, Rabu (23/7/2026).

Aksi tersebut menyebabkan arus lalu lintas di jalur utama penghubung Pasuruan–Probolinggo lumpuh total karena kendaraan yang melintas dihadang warga.

Salah seorang warga Desa Wates Kecamatan Lekok Muhlis, menuturkan penutupan jalan dilakukan sebagai bentuk solidaritas dan protes atas kejadian peluru nyasar yang seringkali menimpa permukiman warga.

“Untuk sementara dan saat ini, Jalan Pantura Pasuruan–Probolinggo ditutup total oleh warga 10 desa di Kecamatan Lekok dan Nguling,” ujarnya.

Menurut Muhlis, aksi spontan warga dipicu oleh kejadian peluru nyasar yang terjadi dua kali dalam rentang waktu sekitar 12 jam. Peristiwa pertama terjadi pada Selasa sore sekitar pukul 16.00 WIB, ketika sejumlah peluru mengenai beberapa rumah warga di Desa Alas Telogo.

“Kemarin sore itu ada peluru juga nyasar yang kena beberapa rumah, lima rumah yang terkena dampak pelurunya itu sekitar sore jam empat-an,” tuturnya.

Keesokan paginya, sekitar pukul 08.30 WIB, warga kembali dikejutkan dengan kejadian serupa. Kali ini, peluru nyasar disebut nyaris mengenai seorang anak berusia dua tahun.

“Tadi pagi sekitar jam 8.30 itu terjadi lagi. Yang tadi pagi itu hampir kena anak usia dua tahun. Ada tiga peluru juga yang nyasar,” kata Muhlis.

Ia menegaskan bahwa kejadian berulang dalam waktu singkat membuat warga semakin resah. Karena itu, warga dari 10 desa sepakat turun ke jalan dan menutup akses Pantura sebagai bentuk tuntutan agar ada jaminan keselamatan bagi masyarakat.

“Dengan terjadinya itu, 12 jam terjadi dua kali. Spontanitas, warga semua 10 desa itu merapat barisan karena ini terkait kemanusiaan. Warga sudah resah beberapa kali dalam satu bulan ini peluru nyasar,” ungkapnya.

Menurutnya, tuntutan utama warga bukan hanya meminta evaluasi, melainkan penghentian aktivitas latihan militer di kawasan yang berdekatan dengan permukiman penduduk.

“Tuntutan warga saat ini, hentikan pelatihan dan juga moratorium tempat latihan yang ada di tengah-tengah warga di 10 desa ini. Karena itu sudah tidak layak, tidak wajar latihan itu ada di posisi tengah-tengah warga,” tegasnya.

Muhlis mengatakan warga berharap pemerintah dan pihak terkait segera memindahkan lokasi latihan agar tidak lagi mengancam keselamatan masyarakat.

“Harapan warga saat ini agar ke depannya tidak ada latihan lagi. Setiap bulannya, setiap tahunnya pasti ada korban, entah itu nyerempet warga, entah itu kena warga. Itu menjadi trauma besar bagi adik-adik kita yang sekolah. Mulai kemarin adik-adik kita sudah tidak ada yang masuk sekolah karena takut dengan adanya peluru nyasar itu,” ujarnya.

Penulis

Admin_LJ

Redaksi LiputanJatim menyajikan berita, informasi, dan analisis seputar Jawa Timur, nasional, politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan peristiwa terkini.

Lihat artikel penulis

Tinggalkan Komentar