Iklan
Jatim

SMPN 1 Surabaya Borong 4 Penghargaan di Festival Paduan Suara Thailand

Oleh Pamela 27 dibaca
Add on Google 💬

SURABAYA – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan pelajar Kota Surabaya di kancah internasional.

Sebanyak 34 siswa SMP Negeri 1 Surabaya yang tergabung dalam ekstrakurikuler paduan suara One Voice Spensabaya berhasil memboyong empat penghargaan dalam 3rd Thailand International Choral Festival (Thai ICF) 2026 di Bangkok, Thailand.

Empat penghargaan yang diraih yakni Special Jury’s Award: Outstanding Conducting, Special Jury’s Award: Excellent Programming, First Winner of Children’s Choir Category, serta First Winner of Pop & Jazz Category.

Pada kategori Children’s Choir, One Voice Spensabaya meraih nilai tertinggi 90,33 poin. Sementara pada kategori Pop & Jazz, mereka menjadi pemenang pertama dengan perolehan 89,38 poin.

Kompetisi internasional tersebut berlangsung pada 3–7 Agustus 2026 di Thailand Cultural Centre, Bangkok.

Ajang tersebut mempertemukan kelompok paduan suara dari berbagai negara untuk berkompetisi dalam sejumlah kategori.

Dalam kompetisi Thai ICF, setiap peserta dapat mengikuti maksimal dua kategori. Para pemenang kategori kemudian memiliki kesempatan untuk melanjutkan persaingan dalam Grand Prize Competition.

Untuk kategori Children’s Choir, One Voice Spensabaya membawakan lagu Suwidak Loro dan Agletta.

Sedangkan pada kategori Pop & Jazz, mereka menampilkan Reflection dan Golden.

Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, mengapresiasi prestasi yang diraih para siswa tersebut.

Menurutnya, capaian di tingkat internasional menjadi bukti bahwa kegiatan ekstrakurikuler dapat menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan bakat sekaligus membentuk karakter.

“Selamat kepada anak-anak One Voice Spensabaya atas prestasi yang diraih di tingkat internasional. Ini membuktikan bahwa pengembangan bakat yang diiringi pembinaan karakter dapat melahirkan generasi yang berprestasi dan percaya diri,” kata Febri, Jumat (7/8/2026).

Febri menilai pengembangan karakter merupakan bagian penting dalam proses pendidikan.

Sekolah, kata dia, tidak cukup hanya menjadi tempat siswa mendapatkan pengetahuan akademik, tetapi juga harus menjadi ruang untuk mengembangkan potensi dan nilai-nilai positif.

Menurutnya, kegiatan paduan suara dapat mengajarkan banyak hal kepada siswa, mulai dari kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama, hingga keberanian tampil di depan publik.

“Paduan suara seperti ini menjadi salah satu contoh bahwa anak-anak bisa belajar banyak hal di luar kemampuan bernyanyi. Mereka belajar disiplin mengikuti latihan, bertanggung jawab terhadap perannya, menghargai teman, membangun kekompakan, dan berani tampil. Nilai-nilai seperti inilah yang penting untuk terus kita kembangkan,” imbuhnya.

Dibina Enam Bulan

Kepala SMP Negeri 1 Surabaya, Eko Widayani, mengatakan keberhasilan One Voice Spensabaya tidak semata-mata diukur dari kemenangan dalam kompetisi.

Menurutnya, proses panjang yang dijalani para siswa justru menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter dan tumbuh kembang mereka.

“Dukungan dan proses pembimbingan yang kami lakukan merupakan bagian dari pendidikan karakter dan tumbuh kembang anak melalui bakat dan talenta mereka, salah satunya di bidang olah vokal atau paduan suara. Kami tidak bisa berjalan sendiri, kami membutuhkan dukungan dari para orang tua yang luar biasa,” kata Eko.

Ia menjelaskan, pencapaian tersebut lahir dari kolaborasi tiga unsur utama, yakni sekolah, pelatih, dan orang tua.

Ketiganya memiliki peran dalam mendampingi siswa mulai dari proses latihan hingga mengikuti kompetisi.

“Di balik anak-anak yang hebat, pasti ada orang tua yang hebat dan guru-guru yang hebat. Karena ini merupakan sebuah tim, seluruh pihak harus saling mendukung. Semuanya dilakukan untuk mendukung pertumbuhan dan pendidikan karakter anak melalui bakat dan talenta mereka,” ujarnya.

Pembinaan One Voice Spensabaya dilakukan secara rutin sebagai bagian dari kegiatan pengembangan diri siswa.

Ketika menghadapi kompetisi, intensitas latihan ditambah di luar jam sekolah sehingga tidak mengganggu proses pembelajaran.

Melalui latihan tersebut, siswa tidak hanya ditempa dalam kemampuan vokal. Mereka juga dilatih untuk mandiri, bertanggung jawab, bekerja sama, serta memahami peran masing-masing dalam sebuah tim.

“Dalam paduan suara terdapat pembagian suara dan tanggung jawab yang harus dipahami setiap anggota. Dari situ anak-anak belajar bagaimana memahami kemampuan dan peran masing-masing. Itulah yang kemudian membentuk karakter mereka,” tutur Eko.

Sementara itu, Ketua Koordinator Ekstrakurikuler One Voice Spensabaya, Novita Hidayati, mengatakan capaian di Thailand merupakan buah dari persiapan panjang.

Para siswa menjalani pembinaan selama kurang lebih enam bulan sebelum tampil dalam kompetisi internasional tersebut.

“Untuk mencapai hasil tersebut, proses latihan anak-anak tentu tidak mudah. Mereka menjalani pembinaan kurang lebih selama enam bulan dengan latihan yang cukup intensif,” kata Novita.

Memasuki tiga pekan terakhir sebelum keberangkatan, intensitas latihan semakin ditingkatkan. Para siswa berlatih setelah pulang sekolah hingga sekitar pukul 18.00–19.00 WIB.

Selain latihan, para siswa juga diminta menjaga kondisi fisik dan kualitas suara. Mereka mengikuti arahan pelatih, termasuk terkait pola makan selama masa persiapan.

Orang tua juga mengambil peran penting dalam mendukung persiapan tim. Mereka membentuk kepanitiaan kecil yang membantu berbagai kebutuhan, mulai dari kostum, jadwal latihan, konsumsi, hingga koordinasi antara siswa dan pelatih.

Novita menjelaskan, pembinaan dilakukan dengan melibatkan sejumlah pelatih yang memiliki keahlian berbeda.

Ada pelatih yang menangani notasi, latihan berdasarkan jenis suara, harmonisasi, hingga penggabungan seluruh bagian sebelum masuk ke tahap konduktor dan koreografer.

“Jadi, proses pembinaan ini merupakan hasil kolaborasi dari banyak coach dengan keahlian masing-masing. Ada yang menangani notasi, latihan per jenis suara, harmonisasi, sampai penggabungan seluruh bagian. Setelah itu baru masuk ke konduktor dan koreografer,” jelasnya.

Menurut Novita, tantangan terbesar dalam paduan suara adalah menyatukan kemampuan setiap anggota menjadi satu harmoni.

Apalagi, sebagian siswa memiliki pengalaman sebagai penyanyi solo sebelum bergabung dalam kelompok paduan suara.

Untuk membangun rasa percaya diri siswa ketika tampil di panggung internasional, para pendamping berupaya menciptakan suasana latihan yang menyenangkan.

“Kami punya jargon, ‘Ayo, kalian artisnya.’ Itu untuk membangkitkan mood anak-anak sekaligus mendorong mereka tampil percaya diri dan memberikan penampilan terbaik,” ujarnya.

Pernah Juara di Korea Selatan

Prestasi di Thailand bukan kali pertama One Voice Spensabaya tampil dalam kompetisi internasional.

Kelompok paduan suara SMP Negeri 1 Surabaya tersebut sebelumnya telah mengikuti sejumlah kompetisi di Singapura dan Malaysia.

Pada tahun lalu, mereka juga mengikuti Busan Choral Festival Choir di Korea Selatan dan berhasil meraih Grand Prize Champion.

Tahun ini, target untuk kembali meraih gelar Grand Prize Champion memang belum tercapai.

Namun, empat penghargaan yang dibawa pulang dari Thailand menjadi capaian tersendiri karena untuk pertama kalinya One Voice Spensabaya berhasil menjadi pemenang di dua kategori sekaligus.

“Sekalipun tidak masuk Grand Prix Champion. Baru kali ini kami menyabet langsung dua kategori dan semuanya menjadi first winner. Ini suatu keberhasilan yang luar biasa,” kata Novita.

Dalam rangkaian Thai ICF, Grand Prize Competition menjadi tahap puncak yang mempertemukan para pemenang kategori untuk memperebutkan gelar Grand Prize Champion.

Penyelenggara memberikan kesempatan tersebut kepada para pemenang kategori maupun peserta yang mendapat rekomendasi dari artistic director dan juri.

Meski belum meraih gelar tersebut, pengalaman tampil dan berkompetisi bersama kelompok paduan suara dari berbagai negara dinilai menjadi bekal penting bagi para siswa untuk terus berkembang.

Novita berharap pengalaman internasional yang diperoleh siswa dapat menjadi modal untuk mengembangkan kemampuan mereka ketika melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA hingga perguruan tinggi.

“Kami berharap kegiatan ini dapat terus melahirkan penyanyi-penyanyi berbakat. Untuk SMP Negeri 1 sendiri, harapan kami tentunya semakin mengharumkan nama Spensa Surabaya, Kota Surabaya, dan Indonesia,” harapnya.

Ia menegaskan, keberhasilan di Thailand tidak membuat One Voice Spensabaya berpuas diri. Peluang untuk mengikuti kompetisi internasional lainnya akan tetap dipertimbangkan dengan memperhatikan kesiapan siswa, waktu pelaksanaan, serta dukungan orang tua.

“Kami tidak pernah berpuas diri dengan satu kompetisi. Jika ada kompetisi lain yang bisa kami ikuti, kami akan tetap mempertimbangkannya dengan matang,” pungkasnya.

Penulis

Pamela

Redaksi LiputanJatim menyajikan berita, informasi, dan analisis seputar Jawa Timur, nasional, politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan peristiwa terkini.

Lihat artikel penulis

Tinggalkan Komentar