Ads

Jelang Ramadan 1447 H, Harga Cabai dan Bawang Merah di Sidoarjo Melonjak Tajam

Liputanjatim.com – Jelang memasuki Bulan Suci Ramadan 1447 Hijriah, harga sejumlah bahan pokok di pasar tradisional Sidoarjo mengalami lonjakan signifikan. Kenaikan paling mencolok terjadi pada komoditas cabai dan bawang merah.

Di Pasar Baru Porong harga cabai rawit kualitas bagus kini menembus Rp 95 ribu/kilogram. Padahal sebelumnya harga cabai masih di kisaran Rp 60 ribu per kilogram.

Sumiati (52), pedagang bumbu dapur di Pasar Baru Porong mengatakan lonjakan harga cabai ini sudah terjadi sekitar 3 pekan terakhir.

“Cabai rawit yang bagus sekarang Rp 95 ribu per kilo, sebelumnya cuma Rp 60 ribu. Naiknya pelan-pelan tapi terus,” ujar Sumiati, Senin (9/2/2026).

Tak hanya cabai rawit merah, cabai rawit kecil yang masih hijau juga ikut terkerek. Dari harga semula Rp 25 ribu per kilogram, kini menjadi Rp 45 ribu per kilogram.

Selain cabai, bawang merah kualitas bagus juga mengalami lonjakan tajam. “Bawang merah dulu Rp 25 ribu, sekarang sudah Rp 55 ribu per kilo. Sudah sekitar tiga mingguan ini naiknya,” tambahnya.

Sumiati menduga kenaikan harga ini di picu oleh beberapa faktor, mulai dari meningkatnya permintaan jelang Ramadan hingga cuaca yang kurang bersahabat.

“Mungkin karena mau Ramadan juga, terus cuaca sering hujan, kiriman jadi telat. Kadang juga harga sudah tinggi dari penyuplai,” jelasnya.

Hal senada di sampaikan Sriatun (39), pedagang di Pasar Porong. Ia mengaku hampir semua kebutuhan dapur mengalami kenaikan, terutama cabai rawit kecil kualitas baik.

“Cabai rawit kecil itu yang paling terasa naiknya. Sudah tiga minggu ini, dan naiknya bertahap, hampir tiap hari ada kenaikan,” kata Sriatun.

Menurutnya, kenaikan harga menjelang Ramadan seperti ini sudah menjadi pola tahunan. Namun kali ini sangat parah dengan berkurangnya hasil panen petani akibat cuaca buruk.

“Banyak petani cabai dan bawang panennya turun karena cuaca jelek. Akhirnya stok di pasar induk Porong juga berkurang,” ujarnya.

Kenaikan harga cabai ini turut di keluhkan para pelaku usaha kuliner kecil. Sugito (42), penjual nasi lalapan di wilayah Porong, mengaku harus memutar otak agar tidak merugi.

“Sekarang sambal saya campur, cabai rawit merah di campur rawit hijau. Pedasnya masih sama, tapi kalau pakai yang bagus semua, untungnya tipis sekali,” katanya.

Ia juga mengeluhkan sepinya pembeli di musim hujan. “Musim hujan gini pembeli juga berkurang, jadi makin terasa berat,” tandasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terkait

Ikuti Kami

10,750FansSuka
26,000PengikutMengikuti
1,079PengikutMengikuti
1,825PengikutMengikuti
16,700PelangganBerlangganan

Artikel Terbaru