Harga Beras dan Minyak Goreng di Jawa Timur Naik, Cabai dan Telur Ayam Kampung Turun
Liputanjatim.com – Harga sejumlah bahan pokok di Jawa Timur kembali mengalami fluktuasi pada Kamis (25/6/2026). Berdasarkan data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur, komoditas beras, minyak goreng, dan gas elpiji mengalami kenaikan. Sebaliknya, harga beberapa komoditas lain seperti cabai dan telur ayam kampung justru menunjukkan tren penurunan.
Kenaikan terjadi pada seluruh jenis beras dan minyak goreng. Harga beras premium tercatat sebesar Rp15.009 per kilogram, naik Rp49 atau 0,32 persen dibandingkan hari sebelumnya. Sementara itu, beras medium naik tipis Rp5 atau 0,04 persen menjadi Rp12.944 per kilogram.
Di kelompok minyak goreng, harga minyak goreng curah naik Rp332 atau 1,62 persen menjadi Rp20.775 per kilogram. Minyak goreng kemasan premium juga meningkat Rp316 atau 1,45 persen menjadi Rp22.097 per liter, sedangkan minyak goreng kemasan sederhana naik Rp32 atau 0,17 persen menjadi Rp18.653 per liter. Harga Minyakita turut mengalami kenaikan sebesar Rp33 atau 0,20 persen menjadi Rp16.360 per liter.
Selain itu, harga gas elpiji mengalami kenaikan sebesar Rp151 atau 0,76 persen menjadi Rp20.017 per tabung. Sementara harga komoditas lain seperti gula kristal putih, daging sapi, dan telur ayam ras relatif stabil.
Di sisi lain, sejumlah bahan pangan menunjukkan tren penurunan harga. Daging ayam kampung turun menjadi Rp69.282 per kilogram, sedangkan telur ayam kampung turun menjadi Rp44.907 per kilogram. Penurunan juga terjadi pada seluruh jenis cabai, di antaranya cabai merah keriting yang berada di level Rp33.780 per kilogram, cabai merah besar Rp32.618 per kilogram, dan cabai rawit merah Rp43.428 per kilogram.
Pengamat ekonomi menilai fluktuasi harga bahan pokok dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari perubahan permintaan dan pasokan, kondisi cuaca, biaya distribusi, hingga kebijakan pemerintah di sektor pangan. Kenaikan harga beras dan minyak goreng perlu mendapat perhatian karena kedua komoditas tersebut merupakan kebutuhan utama rumah tangga dan berpotensi memberikan tekanan terhadap inflasi daerah apabila tren kenaikan terus berlanjut.