Liputanjatim.com – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Aida Fitriati, menyoroti tingginya tren penyakit menular di Kabupaten Pasuruan yang masih didominasi infeksi. Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian serius, terutama terkait Tuberkulosis (TBC) yang masih berada dalam tiga besar penyakit terbanyak.
Berdasarkan data BPJS Kesehatan, influenza dan infeksi pernapasan akut lainnya menempati urutan pertama tren penyakit di Kabupaten Pasuruan. Disusul penyakit infeksi usus di posisi kedua, sementara TBC berada di peringkat ketiga. Selain itu, sejumlah penyakit infeksi lain seperti infeksi virus dengan lesi kulit, penyakit bakteri lainnya, mikosis, hingga demam berdarah juga masih masuk dalam sepuluh besar kasus yang ditemukan.
Neng Fitri, sapaan akrab Aida Fitriati, menyatakan bahwa dominasi penyakit menular tersebut menunjukkan masih adanya tantangan dalam upaya pencegahan serta peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat.
“Data ini menunjukkan bahwa penyakit menular masih menjadi persoalan utama. TBC yang berada di peringkat tiga harus mendapat perhatian khusus karena penularannya cepat dan membutuhkan pengobatan jangka panjang,” ujar Neng Fitri, Jumat (17/4/2026).
Ia menambahkan, tingginya angka penyakit menular tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga berpengaruh terhadap produktivitas serta kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, diperlukan langkah konkret melalui penguatan upaya pencegahan.
Menurutnya, strategi yang dapat dilakukan antara lain memperkuat peran puskesmas, meningkatkan skrining kesehatan, serta melibatkan kader kesehatan di tingkat desa. Selain itu, koordinasi antara pemerintah daerah, fasilitas layanan kesehatan, dan masyarakat dinilai krusial dalam menekan angka penularan.
“Deteksi dini menjadi kunci dalam penanganan TBC. Jika kasus ditemukan lebih awal, pengobatan bisa lebih cepat dilakukan dan risiko penularan dapat ditekan,” jelasnya.
Neng Fitri juga menyoroti tingginya kasus influenza dan infeksi pernapasan akut yang mencerminkan pentingnya penerapan pola hidup bersih dan sehat. Faktor lingkungan seperti kepadatan hunian dan ventilasi rumah yang kurang memadai disebut turut berkontribusi terhadap penyebaran penyakit.
Sebagai anggota Komisi E yang membidangi kesejahteraan rakyat, ia berharap pemerintah daerah terus memperkuat program kesehatan berbasis masyarakat. Keterlibatan lintas sektor, mulai dari tenaga kesehatan, pemerintah desa, hingga tokoh masyarakat, dinilai menjadi kunci dalam upaya pencegahan.
“Penanganan penyakit menular tidak bisa dilakukan sendiri. Dibutuhkan kerja sama semua pihak agar angka TBC dan penyakit infeksi lainnya di Pasuruan dapat ditekan,” pungkasnya.
