Jatim

Gus Rosikh: NU Jangan Jadi Mainan Kelompok Kepentingan, NU Ora Didol

Oleh Abdullaah AT 05 Juni 2026, 17:08 WIB 2 menit baca 4 dibaca
Ringkasan Artikel

Liputanjatim.com - Pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmi As-Syar’iyati (MIS) Sarang, Rembang, KH Achmad Rosikh Roghibi atau Gus Rosikh, menyoroti dinamika penetapan lokasi Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) yang sempat mengalami tarik ulur.

Add on Google 💬

Liputanjatim.com – Pengasuh Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmi As-Syar’iyati (MIS) Sarang, Rembang, KH Achmad Rosikh Roghibi atau Gus Rosikh, menyoroti dinamika penetapan lokasi Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) yang sempat mengalami tarik ulur.

Gus Rosikh menyambut baik keputusan penetapan Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, sebagai lokasi pelaksanaan Munas dan Konbes NU. Menurutnya, pesantren merupakan tempat yang paling tepat untuk menggelar agenda strategis organisasi karena menjadi basis lahir dan berkembangnya NU.

Meski demikian, ia mengingatkan agar polemik serupa tidak kembali terjadi menjelang pelaksanaan Muktamar NU mendatang. Ia menilai proses penetapan lokasi Munas dan Konbes yang baru diumumkan pada 2 Juni, sementara kegiatan dijadwalkan berlangsung pada 20–21 Juni, menunjukkan perlunya tata kelola organisasi yang lebih tertib dan transparan.

“NU jangan dibuat mainan, jangan dibuat alat kepentingan antar kelompok. NU itu milik umat, bukan milik segelintir kepentingan. NU ora didol,” tegas Gus Rosikh.

Menurutnya, organisasi sebesar NU harus dikelola dengan perencanaan yang matang dan berpegang pada nilai-nilai Khittah Nahdlatul Ulama. Seluruh proses menuju forum-forum strategis organisasi juga harus melibatkan unsur-unsur jam’iyah secara proporsional.

“Jangan sampai pola tarik ulur seperti ini terjadi lagi menjelang Muktamar. Muktamar harus menjadi momentum memperkuat persatuan warga NU, bukan justru menimbulkan kegaduhan akibat persoalan teknis maupun kepentingan tertentu,” ujarnya.

Lebih lanjut, Gus Rosikh menilai reformasi di tubuh PBNU perlu terus didorong agar organisasi kembali berjalan sesuai semangat para muassis sejak berdirinya pada 1926, yakni sebagai wadah perjuangan keagamaan, kebangsaan, dan kemaslahatan umat. Ia juga berharap struktur PWNU dan PCNU dapat bersikap solid dalam menentukan arah kepemimpinan organisasi ke depan.

“Reformasi PBNU adalah ikhtiar untuk mengembalikan NU kepada ruh perjuangan para muassis. NU harus dijaga, dirawat, dan diperjuangkan bersama, bukan diperebutkan, dan jangan beri lagi amanah kepemimpinan pada Gus Yahya di periode mendatang,” pungkasnya.

Penulis

Abdullaah AT

Redaksi LiputanJatim menyajikan berita, informasi, dan analisis seputar Jawa Timur, nasional, politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan peristiwa terkini.

Lihat artikel penulis

Tinggalkan Komentar