Liputanjatim.com – Persoalan minimnya lapangan kerja bagi kalangan muda dan milenial masih menjadi keluhan utama yang disuarakan masyarakat. Hal ini disampaikan oleh Anggota DPRD Jawa Timur Fauzan Fuadi saat menggelar reses dan menyerap aspirasi para pemuda di kawasan Rengel, Tuban, Minggu (29/5/2025),
Fauzan menyebut banyak anak muda yang menyampaikan keresahan mereka, terutama soal masa depan pasca menempuh pendidikan.
“Di hari pertama reses kemarin, banyak anak-anak muda dan milenial yang hadir. Mereka menyampaikan keresahan terkait lapangan kerja dan pendidikan. Mereka minta perhatian serius, terutama soal jaminan mendapatkan pekerjaan setelah lulus,” kata Fauzan.
Menurut Fauzan, pemerintah sebenarnya telah memberikan perhatian terhadap isu ketenagakerjaan. Namun, ia menilai pendekatan yang digunakan dalam pelatihan dan pembinaan masih belum sepenuhnya menyentuh kebutuhan riil di lapangan.
“Program pelatihan memang ada, tapi sering kali tidak sesuai dengan kebutuhan nyata masyarakat. Kalau pelatihan hanya untuk menghabiskan anggaran tanpa output yang jelas, ya percuma,” ujarnya tegas.
Fauzan menyoroti pentingnya pelatihan yang adaptif terhadap perkembangan zaman, terutama tren penggunaan media sosial oleh anak muda sebagai peluang ekonomi baru.
“Anak-anak muda sekarang banyak yang memanfaatkan media sosial untuk mencari penghasilan. Ini tren yang seharusnya bisa dijawab oleh program pelatihan. Jadi pelatihannya harus mengarah ke sana, ke peluang-peluang yang relevan dengan zaman mereka,” jelas Ketua Fraksi PKB DPRD Jatim itu.
Ia menekankan perlunya pelatihan yang membekali pemuda dengan kemampuan mengelola akun media sosial secara profesional, agar tidak hanya sekadar menjadi ajang eksistensi pribadi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi dan sosial.
“Bagaimana akun media sosial mereka bisa dimanfaatkan secara profesional, itu yang perlu diajarkan. Supaya tidak hanya gaya-gayaan, tapi ada muatan ekonomi, manfaat sosial, atau manfaat lain yang konkret,” lanjutnya.
Fauzan juga menekankan pentingnya pendampingan intensif bagi para pemula, yang belum memiliki modal sosial seperti selebritas atau influencer dengan basis pengikut besar.
“Selama ini yang sukses di media sosial itu mereka yang sudah punya nama besar. Tapi anak-anak muda yang baru mulai jelas butuh bimbingan. Nah, di sinilah pemerintah daerah baik kabupaten maupun provinsi harus hadir dan bekerja sama membuat sistem pembinaan yang terintegrasi,” pungkasnya.




