IKLAN
Peristiwa

Terseret Arus Deras, Santri Ngawi Tenggelam saat Mandi di Bengawan Solo

Oleh hani 7 dibaca
Add on Google 💬

Nasib nahas menimpa Muhamad Maulana Rifai (14), seorang santri Pondok Pesantren Miftahul Jannah, Desa Mantingan, Kecamatan Mantingan, Kabupaten Ngawi. Remaja tersebut dilaporkan tenggelam di Sungai Bengawan Solo saat mandi bersama 13 rekannya pada Kamis (11/6/2026) sore.

Hingga malam hari, korban masih belum ditemukan. Tim gabungan dari berbagai unsur terus berupaya melakukan pencarian sebelum akhirnya operasi dihentikan sementara karena kondisi gelap dan akan dilanjutkan keesokan harinya.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, peristiwa bermula saat korban bersama sejumlah rekannya mandi di tepian Sungai Bengawan Solo yang berada tidak jauh dari lingkungan pondok pesantren. Saat berada di sungai, korban diduga berenang menuju bagian tengah yang memiliki kedalaman sekitar empat hingga lima meter.

Kondisi arus yang cukup deras membuat korban kesulitan untuk kembali ke tepian. Rekan-rekannya yang mengetahui kejadian tersebut berusaha memberikan pertolongan menggunakan sebatang bambu. Namun upaya penyelamatan itu tidak berhasil.

Relawan di lokasi, Joko Tris, menuturkan korban sempat terlihat sebelum akhirnya hilang di dalam air.

“Dia mandi disungai bersama 13 temannya korban ketengah dan tenggelam sempat muncul dan ditolong temannya namun gagal korban santri pondok,” ujarnya.

Kabar tenggelamnya Rifai dengan cepat menyebar dan mengundang perhatian warga sekitar. Suasana haru tampak di lokasi ketika ibu korban, Jumiati (40), warga Desa Mlale, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, datang setelah mendapatkan informasi mengenai musibah yang menimpa putranya.

Tangis histeris pecah di tepi sungai saat dirinya mengetahui anaknya belum berhasil ditemukan. Beberapa teman korban yang berada di lokasi terlihat menghampiri dan meminta maaf karena tidak mampu menyelamatkan Rifai.

Di sekitar lokasi kejadian, petugas menemukan sejumlah barang milik korban berupa sarung, kaos, dan sandal yang ditinggalkan di tepi sungai sebelum korban mandi.

Mendapat laporan dari masyarakat, aparat kepolisian langsung mendatangi lokasi dan berkoordinasi dengan sejumlah instansi terkait. Tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar), serta relawan diterjunkan untuk melakukan pencarian di sekitar lokasi korban diduga tenggelam.

Kasi Penyelamatan Damkar Ngawi, Rohmad Angga, mengatakan pencarian korban menghadapi kendala karena kondisi sungai yang cukup dalam dan arus yang deras.

“Kita kesulitan karena air cukup deras kita tunggu basarnas sungai sangat dalam dan belim di temukan,” katanya.

Sementara itu, Kapolsek Mantingan, Iptu Andy Wijayanto, membenarkan adanya laporan mengenai seorang santri yang diduga tenggelam di Sungai Bengawan Solo.

“ada laporan diduga anak tenggelam kita datang ke lokasi kita kordinasi dengan pihak terkair korban santri pondok,” ujar Iptu Andy.

Hingga malam hari, korban belum ditemukan. Operasi pencarian sementara dihentikan karena faktor keselamatan dan keterbatasan jarak pandang.

Tim gabungan dijadwalkan kembali melakukan penyisiran pada Jumat (12/6/2026) pagi dengan memperluas area pencarian. Selain itu, petugas juga menunggu kedatangan personel Basarnas Pos Bojonegoro guna memperkuat proses pencarian di sepanjang aliran Sungai Bengawan Solo.

Penulis

hani

Redaksi LiputanJatim menyajikan berita, informasi, dan analisis seputar Jawa Timur, nasional, politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan peristiwa terkini.

Lihat artikel penulis

Tinggalkan Komentar