Ads

PMK Masih Merebak, Hasil Susu Sapi Perah Magetan Merosot

Liputanjatim.com – Hasil produksi susu sapi perah di Kabupaten Magetan tercatat terus menurun dalam beberapa tahun terakhir, seiring berkurangnya jumlah sapi perah akibat wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang masih terjadi hingga awal 2026.

Dampaknya tidak hanya pada jumlah ternak, tetapi juga pada tingkat produktivitas sapi perah yang belum kembali normal.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Magetan, Nur Haryani, mengungkapkan bahwa sebelum merebaknya PMK pada 2022 lalu, populasi sapi perah di Magetan mencapai lebih dari 1.000 ekor dan tersebar di sejumlah kecamatan.

Namun, hingga tahun 2026 ini jumlah tersebut menyusut drastis menjadi sekitar 700 ekor.

“Penurunan ini sudah berlangsung sejak awal PMK merebak pada 2022. Dari 1.000 sekian ekor sapi perah, sekarang tinggal sekitar 700 ekor. Ini penurunan yang cukup drastis,” ungkap Nur Haryani, Minggu (1/2/2026).

Ia menjelaskan, PMK tidak hanya menyebabkan kematian atau pemotongan paksa pada ternak, tetapi juga menimbulkan dampak jangka panjang terhadap performa produksi dan reproduksi sapi perah.

Kadisnakkan Magetan itu menyebut, sapi yang pernah terpapar PMK umumnya tidak bisa kembali ke kondisi normal seperti sebelum sakit, sehingga produksi susu ikut menurun.

Baca juga: 30 Sapi di Ngawi Positif PMK, Peternak Waspada

“Produksi susu sampai saat ini belum kembali normal. Bahkan saat sapi perah terserang PMK, produksinya bisa turun drastis hingga nol,” ungkapnya.

Nur Haryani menuturkan bahwa situasi itu semakin memburuk akibat lamanya proses penanganan dan pengobatan PMK pada ternak.

Selama masa pengobatan, sapi perah harus mendapatkan antibiotik sehingga hasil susu tidak boleh untuk konsumsi.

Hal ini secara langsung menghentikan produksi susu dalam jangka waktu tertentu.

Pada awal tahun 2026 ini, tambah Nur Haryani, pihaknya mencatat sedikitnya 30 ekor sapi terjangkit virus PMK. Untuk itu, mengandalkan strategi utama berupa vaksinasi.

Pada tahun ini, Magetan memperoleh alokasi vaksin PMK tahap pertama sebanyak 15.000 dosis yang segera didistribusikan ke lapangan.

Selain itu, upaya komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) juga terus digencarkan kepada peternak.

“Petugas medik dan paramedik kami sudah menjangkau sekitar 220 desa. Edukasi ini penting agar peternak benar-benar memahami PMK dan cara pencegahannya,” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terkait

Ikuti Kami

10,750FansSuka
26,000PengikutMengikuti
1,079PengikutMengikuti
1,825PengikutMengikuti
16,600PelangganBerlangganan

Artikel Terbaru