Liputanajatim.com – Nama Indonesia kembali mencuri perhatian di panggung internasional melalui kiprah Tim Antasena Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Tim riset kendaraan hidrogen pertama di Indonesia ini sukses mencatat prestasi gemilang dalam ajang Shell Eco-marathon Qatar 2026 yang berlangsung di Sirkuit Lusail, Qatar, pada 21- 25 Januari 2026.
Di antara 79 tim dari lebih dari 15 negara, Antasena ITS tampil menonjol dengan memboyong 1st Place Technical Innovation Award serta 2nd Place Prototype Hydrogen Fuel Cell. Prestasi tersebut sekaligus memastikan langkah Antasena ITS menuju Shell Eco-marathon Global Championship 2027.
Shell Eco-marathon selama ini dikenal sebagai kompetisi teknik paling bergengsi yang mempertemukan inovator muda dari berbagai belahan dunia. Berangkat dengan target podium, Antasena ITS memanfaatkan ajang ini sebagai sarana menguji riset dan kemampuan teknologi mereka di level global.
Dalam kompetisi tersebut, Antasena ITS menurunkan mobil terbaru bertajuk Falcon 3.0 yang mengusung teknologi hydrogen fuel cell. Salah satu inovasi utama pada kendaraan ini adalah sistem humidifier atau pelembap udara yang berfungsi menjaga kondisi kelembapan mesin agar tetap ideal. Sistem tersebut membuat aliran listrik bekerja lebih stabil dan efisien.
Berkat teknologi tersebut, Falcon 3.0 mampu melaju hingga 498 kilometer hanya dengan 1 meter kubik gas hidrogen, jarak yang setara dengan perjalanan Jakarta–Semarang tanpa pengisian ulang bahan bakar.
Keunggulan inilah yang mengantarkan Antasena ITS meraih penghargaan inovasi terbaik. Salah satu perwakilan tim, Damai, mengungkapkan bahwa capaian tersebut menjadi tonggak baru bagi Antasena ITS.
“Kategori inovasi terbaik ini belum pernah kami menangkan sebelumnya,” kata Damai, Kamis (29/1/2026).
Tim Antasena ITS sendiri diperkuat oleh 44 anggota, dengan 13 orang di antaranya diberangkatkan langsung ke Qatar sesuai kuota paddock yang ditetapkan panitia.
Perjalanan menuju ajang internasional ini bukan tanpa hambatan. Proses pengiriman mobil dari Surabaya ke Doha dilakukan melalui jalur laut di akhir tahun, bertepatan dengan tingginya aktivitas logistik global. Kondisi tersebut sempat menimbulkan kekhawatiran terkait potensi keterlambatan pengiriman.
Tantangan juga hadir saat perlombaan berlangsung. Faktor angin kencang di Sirkuit Lusail menjadi ujian tersendiri bagi tim dalam menjaga stabilitas kendaraan dan menyusun strategi berkendara.
“Angin di Doha cukup kencang dan itu sangat berpengaruh saat mobil dijalankan, baik dari sisi stabilitas maupun strategi berkendara. Kondisi ini sangat berbeda dibandingkan lintasan test drive kami di Indonesia,” papar Damai.
Ketika pengumuman pemenang dibacakan, suasana haru dan bangga menyelimuti tim. Nama Antasena ITS yang dipanggil ke podium menjadi momen puncak setelah melalui rangkaian persiapan panjang dan tantangan di lapangan.
Keberhasilan ini membuka peluang baru bagi Antasena ITS untuk kembali berlaga di tingkat dunia melalui Shell Eco-marathon Global Championship 2027. Bagi tim, pencapaian tersebut menjadi pemacu semangat untuk terus mengembangkan riset kendaraan hidrogen karya anak bangsa.
“Kami yakin, mimpi atau target yang tinggi akan semakin mendorong kita untuk berusaha lebih maksimal. Melalui konsistensi dan kerja keras, kami juga percaya hasil tidak akan mengkhianati usaha,” tandas Damai. buatkan narasi beritanya yang berbeda dengan mengambil kutipan yang sama persis kata-katanya dan buatkan judulnya




