Minim Empati demi Viralitas, Fenomena Konten Tragedi Cangar Jadi Sorotan
Liputanjatim.com – Fenomena maraknya konten media sosial pasca tragedi bunuh diri di kawasan Cangar, Kota Batu, menuai sorotan tajam. Di tengah suasana duka, sebagian kreator konten justru dinilai mengeksploitasi peristiwa tersebut demi meraih popularitas atau viralitas.
Praktisi psikologi dari Rumah Manajemen Indonesia, Heri Budi Laksana, menilai bahwa tren ini mencerminkan rendahnya empati dalam penggunaan media sosial. Menurutnya, dorongan untuk mendapatkan perhatian publik kerap mengabaikan dampak psikologis yang ditimbulkan, khususnya bagi keluarga korban.
“Konten yang hanya mengejar sisi sensasional dari sebuah tragedi dapat melukai proses berduka keluarga yang ditinggalkan,” ujarnya dalam sesi wawancara pada Senin (13/04/2026).
Ia menjelaskan, penyajian konten yang dramatis dan eksplisit terkait lokasi kejadian tidak hanya tidak etis, tetapi juga berpotensi memicu trauma bagi masyarakat luas. Dalam kajian psikologi, kondisi ini bahkan dapat menimbulkan efek peniruan atau copycat suicide jika tidak disikapi secara bijak.
Fenomena ini, lanjut Heri, menunjukkan adanya pergeseran nilai di ruang digital, di mana validasi berupa likes, komentar, dan jumlah penonton sering kali lebih diutamakan dibandingkan nilai kemanusiaan.
“Jangan sampai demi angka penayangan, kita kehilangan empati. Tragedi bukanlah objek hiburan atau bahan konten semata,” tegasnya.
Heri pun mengingatkan pentingnya tanggung jawab moral bagi para kreator dalam memproduksi konten. Ia mendorong agar media sosial dimanfaatkan sebagai sarana edukasi, khususnya dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terkait kesehatan mental.
Selain itu, masyarakat juga diimbau untuk tidak ikut menyebarluaskan konten yang dinilai tidak etis. Partisipasi publik dalam bentuk share, komentar, maupun interaksi lainnya dinilai dapat memperkuat algoritma dan memperluas jangkauan konten tersebut.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa di balik kebebasan berekspresi di era digital, terdapat tanggung jawab besar untuk tetap menjunjung tinggi empati dan nilai kemanusiaan.
