IKLAN
Berita

Keluarga Korban Peluru Nyasar Mengadu ke DPRD Jatim, Minta Keadilan dan Kepastian Penanganan

Oleh Haris 15 April 2026, 13:14 WIB 2 menit baca 0 dibaca
Add on Google 💬

Liputanjatim.com – Keluarga korban peluru nyasar yang diduga berasal dari latihan menembak anggota Marinir TNI AL di Lapangan Tembak Bumi Marinir Karangpilang, Surabaya, mendatangi Gedung DPRD Jawa Timur (Jatim), Selasa (14/4/2026). Kedatangan mereka bertujuan untuk mencari keadilan sekaligus meminta kejelasan atas penanganan kasus yang menimpa anak mereka.

Dewi Murniati, ibu dari DFH (14), tidak kuasa menahan tangis saat menyampaikan kronologi kejadian di hadapan anggota DPRD Jatim. Ia mengungkapkan peristiwa yang dialami putranya serta proses penyelesaian yang hingga kini dinilai belum memberikan kepastian.

Dalam keterangannya, Dewi juga mengaku sempat mendapat tekanan selama proses penanganan kasus. Ia menyebut adanya permintaan agar kejadian tersebut tidak dipublikasikan, bahkan diminta membuat permohonan maaf kepada institusi terkait.

“Kami hanya ingin keadilan dan kejelasan. Yang paling utama bagi saya adalah kesembuhan anak saya sampai benar-benar pulih,” ujar Dewi dengan suara bergetar.

IKLAN

Menurutnya, hingga saat ini upaya keluarga untuk mendapatkan pertanggungjawaban belum membuahkan hasil yang memuaskan. Karena itu, ia berharap DPRD Jatim dapat turut mengawal kasus tersebut agar hak-hak korban dapat terpenuhi.

Menanggapi hal itu, Ketua Komisi C DPRD Jatim, Adam Rusydi, menyatakan pihaknya akan segera menjadwalkan pemanggilan pihak Marinir untuk melakukan mediasi dengan keluarga korban.

“Kami akan memfasilitasi pertemuan antara kedua belah pihak agar ada kejelasan dan solusi yang adil bagi keluarga korban,” kata Adam.

Sementara itu, pihak TNI AL sebelumnya telah memberikan tanggapan terkait peristiwa tersebut. Komandan Hukum Resimen Bantuan Tempur 2 Marinir TNI AL, Mayor Ahmad Fauzi, menyampaikan empati atas kejadian yang menimpa korban.

“Kami menyampaikan turut prihatin atas musibah yang menimpa dua siswa SMP di Gresik. Kami memahami peristiwa ini menimbulkan kecemasan dan kekhawatiran,” ujarnya dalam keterangan, Kamis (2/4/2026).

Diketahui, dua siswa kelas III SMPN 33 Gresik, yakni DFH (14) dan RQ (15), diduga menjadi korban peluru nyasar saat berada di musala sekolah pada 17 Desember 2025 sekitar pukul 10.00 WIB.

Kasus ini pun menjadi perhatian publik karena menyangkut keselamatan warga sipil, khususnya pelajar, serta pentingnya akuntabilitas dalam setiap kegiatan latihan militer. Hingga kini, keluarga korban masih menanti kejelasan tanggung jawab serta jaminan pemulihan bagi anak mereka.

Penulis

Haris

Redaksi LiputanJatim menyajikan berita, informasi, dan analisis seputar Jawa Timur, nasional, politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan peristiwa terkini.

Lihat artikel penulis

Tinggalkan Komentar