Jelang Muktamar NU, Gus Yusuf Dinilai Jadi Figur Jalan Tengah Suksesi PBNU
Liputanjatim.com – Menjelang pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU), dinamika bursa calon Ketua Umum Tanfidziyah PBNU terus menghangat. Di tengah menguatnya sejumlah poros dukungan yang menginginkan keberlanjutan kepemimpinan petahana maupun figur yang memiliki kedekatan dengan pemerintahan, muncul nama Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf sebagai alternatif yang dinilai mampu menjadi jalan tengah.
Pandangan tersebut disampaikan mantan Ketua PW GP Ansor Jatim, Muslih Hasyim. Menurutnya, Gus Yusuf memiliki modal kepemimpinan yang berbeda dibanding figur lain karena lahir dari tradisi pesantren yang kuat, namun juga memiliki pengalaman panjang dalam organisasi dan dunia politik.
“Di tengah munculnya dua kutub yang cukup menonjol dalam suksesi PBNU, Gus Yusuf hadir sebagai figur yang relatif berada di garis tengah. Beliau bukan bagian dari birokrasi negara, tetapi juga memiliki pengalaman yang cukup dalam membangun komunikasi dengan berbagai elemen bangsa,” ujar Muslih.
Muslih menilai, latar belakang Gus Yusuf sebagai pengasuh pesantren membuatnya memahami secara langsung kebutuhan dan aspirasi warga nahdliyin di akar rumput. Tradisi pesantren yang menjunjung nilai tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun kepemimpinan NU ke depan.
Menurut alumni Pesantren Lirboyo Kediri itu, NU saat ini membutuhkan sosok yang mampu memperkuat peran keulamaan sekaligus menjaga kemandirian organisasi di tengah dinamika politik nasional yang terus berkembang.
“Pengalaman beliau di dunia politik justru dapat menjadi bekal untuk membangun komunikasi dengan negara tanpa harus membawa NU terjebak dalam politik praktis. Dalam sejarahnya, NU selalu melahirkan pemimpin yang mampu berdialog dengan pemerintah namun tetap menjaga marwah jam’iyyah,” katanya.
Muslih menambahkan, kombinasi antara akar pesantren yang kuat, pemahaman organisasi, dan pengalaman kebangsaan menjadikan Gus Yusuf sebagai figur yang berpotensi diterima oleh berbagai kelompok di lingkungan NU.
Ia menegaskan bahwa Muktamar NU bukan sekadar ajang kompetisi politik organisasi, melainkan forum permusyawaratan tertinggi yang harus melahirkan kepemimpinan terbaik bagi jam’iyyah.
“Perbedaan pilihan adalah hal yang wajar. Namun yang terpenting adalah bagaimana proses itu tetap berjalan dalam bingkai ukhuwah dan penghormatan terhadap mekanisme organisasi,” ujarnya.
Menurut Muslih, jika benar terdapat polarisasi antara kubu yang menginginkan keberlanjutan kepemimpinan saat ini dan kubu yang dekat dengan kekuasaan, maka kehadiran figur alternatif seperti Gus Yusuf dapat menjadi penyejuk sekaligus titik temu berbagai kepentingan di internal NU.
“NU membutuhkan pemimpin yang tidak larut dalam polarisasi, tetapi mampu merangkul seluruh unsur jam’iyyah. Dalam konteks itu, nama Gus Yusuf layak diperhitungkan sebagai salah satu alternatif yang menawarkan jalan tengah bagi masa depan NU,” pungkasnya.