Apa Saran Pengamat Ekonomi Terkait Kenaikan Harga Bahan Pokok Di Jatim?

Pengamat Ekonomi Unair Imron Mawardi

Liputanjatim.com – Panik buying akibat virus corona menjadi penyebab naiknya harga bahan pokok di Jawa Timur. Agar kelangkaan produk bisa diminimalisir, lantas bagaimana peran pemerintah untuk mengatasi hal tersebut?

Pengamat Ekonomi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Imron Mawardi mengatakan panik buying terjadi tatkala ketika ada satu fenomena yang menyebabkan individu tergerak untuk mengambil keuntungan jangka pendek.

“Saya kira seperti biasa ada orang yang mengambil keuntungan jangka pendek, membeli dalam jumlah banyak, sedikit yang menimbun meski tidak dalam skala yang besar,” kata Imron kepada wartawan, Sabtu (21/3/2020).

Untuk itu, Imron berharap pemerintah dapat meyakinkan masyarakat bahwa kebutuhan pangan akan terjamin. Sebab pemerintah punya buffer seperti gula dan beras.

“Memang yang tidak punya buffer lombok. Pemerintah tidak punya cadangan yang bisa dilakukan, misalnya operasi pasar nggak ada. Ini saya kira perlu diantisipasi dengan memperhitungkan perilaku harga di masa lalu semestinya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan masyarakat,” tambahnya.

“Permintaan bisa diprediksi, misalnya kalau dua bulan menjelang Ramadhan permintaan bahan pokok pasti meningkat. Saat ini yang lebih berdampak adalah syok, panik buying melihat supermarket dibatasi menimbulkan persepsi bisa jadi stok tidak terlalu banyak. Sehingga malah menimbulkan keinginan masyarakat untuk berbelanja,” timpalnya.

Namun begitu, lanjut Imron, dampak virus corona yang melanda Indonesia hari ini juga berdampak besar terhadap kenaikan harga bahan pokok, khususnya di wilayah Jatim.

“Secara alamiah harga barang-barang cenderung naik, ditambah ada pengurangan suplai seperti lombok, bawang putih pengurangan suplai karena kasus corona, beberapa tentu barang-barang impor berkurang. Itu juga mempengaruhi harga bahan-bahan pokok di Jatim,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here